Setiaky/Radar Jogja
SLEMAN – Pelarian dr Rizal Syam Pohan, Wakil Kepala (Waka) Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda DIJ, berakhir. Dokter polisi yang diduga terlibat dalam percaloan penerimaan anggota Polri di lingkuan Polda DIJ itu ditangkap di Apartemen Kalibata City, Jakarta.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda DIJ Kombes Pol Hudit Wahyudi didampingi Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pujiastuti mengatakan, dr Rizal Syam Pohan sudah masuk daftar pencarian orang (DPO) sejak lebih dari sebulan.
“Pada 18 Juni 2015 penyidik telah mengirimkan DPO terhadap oknum tersebut dengan nomor DPO/58/VI/2015 Ditreskrim ke Bareskrim Mabes Polri,” katanya kepada wartawan kemarin (27/7).
Setelah dikeluarkan surat DPO, dan dilakukan pencarian, akhirnya dr Rizal Syam Pohan, baru bisa ditangkap pada 23 Juli di sebuah apartemen di Jakarta. Proses penangkapan dilakukan bekerja sama dengan Bareskrim Mabes Polri. “Dalam sebulan pencarian dari Jogja telusuri sampai akhirnya ditangkap di Jakarta. Penangkapan ini atas kerja sama kami dengan Bareskrim Mabes Polri,” jelasnya.
Menurutnya, dr Rizal Syam Pohan harus mempertanggungjawabkan atas perbuatannya. Sehingga lari ke mana pun tetap akan dikejar. Kejahatan yang dilakukan dr Rizal Syam Pohan adalah melakukan penipuan terhadap seorang pendaftar calon anggota Polri, yakni dengan menyampaikan kepada korban Ny Murtijah bahwa ia sanggup membantu untuk memasukan anaknya (Muhammad Dwi Jayanyo) menjadi anggota Polri, dengan imbalan Rp 150 juta.
Uang itu, menurut dr Rizal Syam Pohan, akan digunakan sebagai biaya administrasi dan fee jika berhasil memasukkan anak korban menjadi polisi. Korban yang akhirnya terperdaya dengan bujuk rayu dr Rizal Syam Pohan, akhirnya menurut saat diminta memberikan sebagian uang pendaftaran Rp 75 juta.
Dalam aksinya saat itu, dr Rizal Syam Pohan mengaku akan mengembalikan semua uang yang diberikan korban jika tidak masuk menjadi polisi. “Baru diserakan Rp 75 juta dengan bukti kuitansi. Pelaku tidak bisa menepati janjinya, karena tidak dapat memasukkan anak korban menjadi polisi. Saat ditagih tidak bias,” tandasnya.
Kejadian penipuan itu berlangsung pada 22 April 2014 lalu sekira pukul 15.00 WIB di RS Bhayangkara Polda DIJ, Kalasan, Sleman. Rumah sakit tersebut merupakan tempat di mana dr Rizal Syam Pohan berdinas. “Tindak pidana penipuannya dilaporkan oleh korban pada 2 Februari 2015,” lanjutnya.
Setelah menerima laporan polisi, penyidik Ditreskrimum membuat administrasi penyidikan, dan selanjutnya melakukan pemeriksaan saksi-saksi, serta mengumpulkan bukti-bukti. Selanjutnya penyidik melakukan pemanggilan terhadap dr Rizal Syam Pohan sebanyak dua kali. “Namun oknum tersebut tidak segera memenuhi panggilan, hingga akhirnya ditetapkan sebagai DPO alias buron,” tegasnya.
Selain korban Murtijah, masih ada dua korban lainnya yang melaporkan tindak penipuan dengan modus dan pelaku yang sama. Namun karena keterbatasan bukti-bukti, saat ini baru laporan (LP) pelapor yang dapat diproses petugas. “Dari tahun 2013 ada tiga laporan, dua LP masih kurang bukti, sementara hanya satu LP dulu yang diproses,” tuturnya.
Pada bagian lain dijelaskan, saat dalam pelarian, dr Rizal Syam Pohan sempat berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Sampai pada akhirnya dapat dibekuk petugas di Jakarta. Uang hasil kejahatan penipuan tersangka diduga digunakan untuk kebutuhannya sehari-hari. Penangkapan terhadap dr Rizal Syam Pohan, juga termasuk perintah pimpinan Polda DIJ yang akan tegas menjalankan aturan.
“Diimbau bagi warga DIJ agar berhati-hati, dan jangan terpengaruh upaya pihak-pihak yang mengaku dan berusaha bisa memasukan menjadi anggota Polri. Karena masuk Polri tidak bayar,” katanya.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku dijerat pasal 378 dan 372 KUHP tentang tindak pidana penipuan dan penggelapan dengan ancaman hukuman masing-masing empat tahun penjara. (cr3/jko/ong)