JOGJA – Pelan tapi pasti. Pemerintah Kota Jogja konsisten menindaklanjuti enam minimarket atau toko waralaba yang diduga liar di wilayah hukumnya. Dari enam yang diduga illegal tersebut, satu di antaranya sudah diputus bersalah dan diharuskan mnutup tokonya. Satu lagi masih tahap pemanggilan paksa. Sisanya masih dalam pendekatan.Untuk yang sudah diputus bersalah lewat persidangan pengadilan, penanggung jawab took bernama Surajito diberikan waktu sebulan untuk menutup sendiri toko tersebut. “Yang di Jogokaryan, telah kami limpahkan ke Dalops (Pengendalian Operasi) untuk penerbitan surat peringatan. Sebelum penutupan paksa,” ujar Kepala Seksi Penyi-dikan Bidang Penegakan Perundangan-undangan dan Pengembangan Kapasitas Dintib Kota Jogja Cristiyana Suhantini, kemarin usai sidang.
Ia menjelaskan, penutupan paksa ini dila-kukan dengan adanya perintah dari wali kota. Dengan tahapan, Dintib mengajukan penutupan paksa ke wali kota, dan dibalas dengan perintah penutupan paksa.Toko berjejaring di Jogokaryan yang di-ketahui ilegal, telah melanggar Perda No 2 tahun 2005 tentang Izin Gangguan. Selain itu, sebenarnya untuk toko berjejaring ini, pemkot telah membatasi di seluruh Kota Jogja hanya ada 52. Selain satu toko yang telah diproses, Din-tib juga tengah memproses dua toko lain di Jalan Batikan dan Jalan Cendana. Se-dangkan salah satu toko lain, sang penang-gung jawab mangkir dari pemanggilan. Cristiyana menambahkan, jika sampai dengan batas waktu pemanggilan kedua tak hadir, Dintib akan melakukan upaya paksa. Pihaknya juga telah mengajukan permoho-nan ke Polresta Jogja untuk bisa menjemput paksa penanggung jawab toko berjejaring yang mangkir dari panggilan tersebut.
Total dari enam toko berjejaring yang tak berizin, Dintib Kota Jogja telah menindak empat toko. Toko tersebut berada di Jogo-karyan, Jalan Batikan, Jalan Cendana, dan Jalan Patangpuluhan. Dari keempat toko tersebut, satu telah bersalah, dua proses, dan satu mangkir.Untuk keberadaan dua toko lain, Cristiyana mengatakan, yang ada di Jalan Menteri Supeno, diketahui jika pengalihan toko serupa di Jalan Golo. Akhirnya, proses penindakan ini berada di tangan Dinas Perizinan (Dinzin). Sedangkan toko yang sama di Rejo-winangun, Dintib memastikan belum melakukan tindakan. Ini karena toko tersebut buka jelang Lebaran lalu. Akhirnya, mereka belum cek ke lapangan. Kepala Bidang Penyidikan Udiyono menegaskan, penertiban terus mereka lakukan. Ini sesuai dengan kebijakan pem-batasan keberadaan toko berjejaring tersebut. Agar bisa melindungi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). (eri/jko/ong)