Dewi Sarmudyahsari/Radar Jogja
BANGGA: Muhammad Archom, senang dirinya jadi bagian dari dunia pariwisata Jogja.

Tak Jarang Cuma Dapat Ucapan Terima Kasih

Muhammad Archom bukan satu-satunya pemandu wisata yang setiap hari ‘mangkal’ di seputaran Keraton. Bersama 50 teman seprofesi, Archom jadi bagian dari Persatuan Pemandu Wisata Keraton dan Sekitarnya (PPWKS). Dengan bayaran sukarela, dan bahkan hanya ucapan terima kasih, dirinya bangga jadi bagian dari dunia pariwisata Jogja.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Seperti biasa, siang itu Archom sudah standby dan menunggu giliran untuk mengantar wisatawan. Mengambil tempat teduh di bawah pohon beringin kecil, Archom menunggu sambil ngobrol bersama teman seprofesinya. Tak jauh dari loket Museum Pagelaran dan Siti Hinggil Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ia memanfaatkan kursi panjang coklat untuk duduk.
“Biasanya sudah siap dari jam setengah delapan pagi. Siapa yang duluan datang, dialah yang akan mengantar wisatawan lebih dulu,” ujar pria kelahiran 7 Juli 1965 ini.
Menjadi pemandu wisata di seputaran Keraton dan tergabung dalam PPWKS bukan hal yang pernah terbersit olehnya. Menurutnya, saat pertama kali Keraton dibuka untuk umum dan menjadi salah satu objek wisata yang kental dengan adat, belum banyak orang yang tahu. Secara swadaya, warga sekitar pun ikut membantu mempromosikan. Kemudian berlanjut menjadi pemandu wisata.
Sudah banyak individu yang akhirnya terjun sebagai pemandu wisata. Organisasi PPWKS pun dibentuk. Menjadi wadah bagi warga sekitar yang meggeluti profesi pemandu wisata di seputaran Keraton.
“Pemandu wisata yang di dalam Keraton juga ada. Tapi kita yang istilahnya di luar, memandu wisatawan yang ingin lebih mengenal wisata di sekitar sini hingga Tamansari,” ujarnya.
Berkembangnya Museum Keraton menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, PPWKS pun ikut berkembang. Kini, setidaknya ada 50-an pemandu wisata yang tergabung dalam PPWKS. Secara rutin, organisasi ini mengadakan pertemuan untuk evaluasi dan briefing tentang kepemanduan.
“Saya dan teman-teman lain, awalnya belajar dulu. Sampai paham betul, baru berani memandu,” ujar salah satu penggerak dan pendiri PPWKS ini.
PPWKS sifatnya tidak mengikat, namun sebagai organisasi sudah resmi dan diakui oleh Dinas Pariwisata DIJ. Ada aturan yang harus ditaati anggotanya, yakni tidak diperbolehkan meminta. Hanya menerima bayaran sukarela dari wisatawan. Jika ada anggota yang ketahuan melanggar, maka dia akan menerima skorsing.
Tiga puluh tahun sudah Archom menggeluti profesi sebagai pemandu wisata. Dengan penghasilan yang tidak pasti, bahkan di saat sepi wisatawan dirinya harus ‘legowo’ tidak membawa uang sepeser pun saat pulang. Beruntung, sang istri pun ikut membantu menopang perekonomian keluarga dengan berdagang batik. Jerih payah keduanya pun mampu membesarkan dan menyekolahkan dua anaknya hingga ke perguruan tinggi.
“Rata-rata Rp 50 ribu, kalau pas musim sepi bisa sama sekali tidak mandu. Tapi pas musim ramai, juga sering kali mandu tapi hanya dapat ucapan terima kasih. Ya, itu warna-warninya, dinikmati saja,” ujarnya.
Meski dari penghasilannya tidak bisa diprediksi, bapak dua anak ini bangga bisa ikut mengenalkan Keraton dan objek wisata di sekitarnya kepada wisatawan. Ia merasakan kenikmatan ketika bisa membagikan pengetahuan kepada orang lain.
“Nikmatnya bisa membagi pengetahuan dan sejarah Keraton kepada wisatawan, nggak ditambah-tambahin dan juga nggak dikurang-kurangi,” ujarnya.
Seperti pemandu wisata lainnya, dirinya berharap objek wisata kebanggaan Jogja ini semakin hari terus menarik banyak wisatawan. “Seumur hidup saya akan bertahan. Selama diberi kesehatan, saya ingin terus jadi pemandu,” tandas Archom. (laz/ong)