Yogi Isti Pujiaji/Setiaky/Radar Jogja
Grafis-bup-sleman
SLEMAN – Pasangan Yuni Satia Rahayu-Danang Wicaksana Sulistya memastikan diri sebagai bakal calon (balon) bupati dan wakil bupati Sleman 2015-2020. Kemarin (27/7), keduanya resmi mendaftarkan diri sebagai peserta pilkada di KPU Kabupaten Sleman.
Diusung tiga partai besar, PDIP, Gerindra, dan PKS, Yuni-Danang yang saat mendaftar dikawal bregada prajurit dan pasukan liong optimistis mampu mengungguli pasangan calon Sri Purnomo-Sri Muslimatun pada pemilihan suara 9 Desember mendatang.
Ketua DPP PDIP Nusirwan Sujono mengatakan, kepastian pengusungan nama pasangan itu sesuai mekanisme internal yang diputuskan pada Minggu sore (26/7). “Ini atas rekomendasi Bu Mega selaku ketua umum PDIP,” ujarnya.
Secara perolehan suara, PDIP Sleman memang bisa mengusung calon sendiri. Namun untuk kepentingan pemenangan, partai berlambang banteng moncong putih itu memilih berkoalisi. Hanya, saat pendaftaran, tak satu pun perwakilan dari PKS tampak di kantor KPU.
Huda Tri Yudiana menjadi satu-satunya wakil PKS yang nongol di kantor DPC PDIP Sleman, meski hanya sebentar. Tak lebih lima menit Huda hadir untuk bersalaman dengan para petinggi PDIP dan Gerindra, lalu segera meninggalkan DPC PDIP. Huda juga enggan berkomentar dengan awak media. “Nanti saja ya,” katanya singkat sambil berlalu.
Ketua DPD Gerindra DIJ Noeryanto menyatakan, koalisi dengan PDIP menjadi pilihan logis, dengan alasan dua partai memiliki visi dan misi yang sama, yakni menyejahterakan masyarakat. “PDIP dan Gerindra adalah partai terbuka,” katanya.
Sementara itu, Yuni mengatakan, tekad pencalonannya ingin membangun nilai kebangsaan dan mengembalikan Sleman sebagai miniatur nasional. “Tak ada lagi KMP atau KIH,” ujarnya.
Senada dengan Yuni, Danang mengaku pencalonannya atas restu Prabowo Subianto, tanpa memandang garis partai. “Tidak ada sekat untuk kepentingan rakyat,” tegas Danang yang menjabat ketua DPP Gerindra Bidang Informasi Strategis.
Terpisah, Ketua DPC PDIP Sleman Koeswanto menyatakan, munculnya nama Danang sebagai pendamping Yuni bukan atas ketidaksengajaan. Itu menyusul mundurnya Sukamto dari rencana pencalonan. “Padahal surat rekomendasi DPP awalnya Yuni-Kamto. Karena masalah itu, last minutes diubah Yuni-Danang,” bebernya.
Koeswanto mengakui keputusan tersebut cukup mendadak sebagai langkah alternatif. Sudah lama PDIP menjalin komunikasi dengan Gerindra. Namun, lantaran sejak awal telah ada kesepakatan dengan Sukamto, maka hubungan dengan Gerindra sedikit diulur. “Nyatanya, Sukamto mundur di detik akhir. Tapi kami telah siapkan plan B,” ucapnya.
PKS Balik Gondok
Disebut-sebut menjalin kekuatan dengan PDIP dan Gerindra untuk mengusung pasangan Yuni Satia Rahayu-Danang Wicaksana Sulistya, PKS justeru bermanuver. Tak hadir saat pendaftaran Yuni-Danang di KPUD Sleman, dua perwakilan PKS, Agus Masudi dan Syafriel Haeba, hadir pada acara penandatanganan MoU dan deklarasi partai-partai pengusung Sri Purnomo-Sri Muslimatun di RM Pringsewu. Keduanya hadir di menit terakhir sebelum acara bubar.
Agus berdalih, kedatangannya ke Pring Sewu lantaran sejak awal memang telah bergabung dengan PAN, PPP, dan Golkar, yang kini koalisinya makin gendut setelah Nasdem, PKB, dan Demokrat turut bergabung. “Kami belum pernah satu forum atau koalisi dengan PDIP atau Gerindra,” kata anggota tim penjaringan balon bupati-wakil bupati DPD PKS Sleman itu.
Agus membenarkan jika Huda Tri Yudiana hadir di kantor DPC PDIP Sleman saat Yuni-Danang bersiap mendaftarkan diri ke KPU setempat. Menurut Agus, koleganya itu mendatangi markas banteng untuk mencari temannya. Karena ada urusan penting, maka Huda harus ke DPC PDIP. Namun, Agus enggan membeberkan siapa teman Huda yang dimaksud, dengan alasan tidak tahu.
“Dia (Huda) sadar jika datang ke PDIP pasti dikira ada apa-apa. Padahal tidak sama sekali,” dalihnya. Kehadiran Huda ke kantor PDIP, lanjut Agus, sekadar mampir setelah dari kantor KPUD Sleman untuk bertanya hal teknis pilkada. (yog/din)
Sri Muslimatun Pilih Mengalir
Nama Sri Muslimatun mendadak tenar terkait perhelatan pilkada Sleman 2015. Itu setelah di saat krusial, bidan senior yang juga anggota DPRD Sleman itu diajukan sebagai calon wakil bupati mendampingi Sri Purnomo. Di sisi lain, Sri adalah kader PDIP.
“Saya mengalir saja. Semua jalan pasti baik,” ungkap politikus tertua di parlemen Sleman, di sela deklarasi pencalonan Duo Sri di RM Pring Sewu, kemarin (27/7). Muslimatun mengaku sadar dan sangat memahami risiko politik yang ditempuhnya. Konsekuensi atas pencalonannya, dia harus mengundurkan diri dari jabatannya sebagai anggota dewan maupun kader partai banteng.
“Semua sudah ada yang mengurus itu,” lanjut istri Damanhuri itu. Muslimatun telah melayangkan surat pengunduran diri ke Sekretariat DPRD Sleman kemarin pagi. “Ya, suratnya sudah diterima setwan,” ungkap Sekretaruis DPRD Sleman Sutadi Gunarto.
Lebih lanjut Muslimatun menuturkan, awalnya dia tak berencana mencalonkan diri dalam pilkada. Namun derasnya arus permintaan dari para politisi membuat Muslimatun sulit membendung. Itu terjadi pada menit-menit akhir pembukaan pendaftaran calon bupati-wakil bupati, Minggu (26/7). “Saya siap lahir batin. Itu pilihan,” katanya menyikapi keharusan mundur dari partai dan DPRD.
Terpisah, Ketua DPC PDIP Sleman Koeswanto menegaskan, Muslimatun otomatis harus mundur dari PDIP. “Kami sudah ajukan surat ke DPP melalui DPD untuk pengunduran diri Muslimatun,” katanya.
Menurut Koeswanto, bagi PDIP kehilangan satu kader potensial tidak masalah. Koeswanto mengklaim semangat banteng ketaton tetap membara demi memenangkan pasangan Yuni Satia Rahayu-Danang Wicaksana Sulistya. (yog/din/laz/ong)