Kekhawatiran pilkada Bantul bakal ada penundaan karena hanya ada satu pasangan calon (paslon) yang mendaftar, tampaknya tidak akan terjadi. Ini setelah pada hari terakhir pendaftaran di KPU kemarin, ada satu paslon lagi yang mendaftar, yakni Suharsono-Abdul Halim Muslich.
Setelah Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bersepakat mengusung Suharsono-Abdul Halim Muslich (Suharsono-Halim), kemarin (28/7) giliran Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merapat bergabung. Tetapi, kedua parpol ini hanya sebagai pendukung pencalonan saja.
Bergabungnya dua parpol ini tampak dari kehadiran Ketua DPC Partai Demokrat Bantul Nur Rachmad dan Ketua DPD PKS Jupriyanto saat pendaftaran pasangan Suharsono-Halim di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bantul, kemarin (28/7). Saat ditemui di sela-sela proses pendaftaran, Nur Rachmad mengakui Partai Demokrat ikut mendukung pencalonan pasangan yang diusung Partai Gerindra dan PKB. Sebab, untuk pemilihan kepala daerah (pilkada) Bantul DPP Partai Demokrat tidak mengeluarkan surat rekomendasi untuk mengusung salah satu pasangan tertentu.
“Ini hanya rekomendasi DPC. DPC diberikan keleluasaan untuk menentukan,” terang Nur Rachmad. Nur Rachmad menegaskan, keputusan memilih mendukung pasangan Suharsono-Halim karena sejumlah pertimbangan. Antara lain, adanya banyak kesamaan visi-misi pasangan Suharsono-Halim dengan Partai Demokrat. “Meskipun pasangan lain juga ada kesamaan,” ujarnya.
Jupriyanto mengatakan, PKS memilih mendukung Suharsono merupakan keputusan di masa injury time. Ini setelah di internal Koalisi Merah Putih (KMP) tidak ditemukan kesepakatan mengenai siapa pasangan yang akan diusung. Padahal, pengusungan calon ini menjadi pilihan pertama KMP.
“Pilihan kedua KMP menunda. Tapi kemudian kita mendengar Gerindra dan PKB mengusung pasangan calon,” tuturnya. Menurutnya, di internal KMP juga ada tiga pilihan bila upaya menunda pilkada gagal. Yakni, mendukung salah satu calon, mengusung calon alternatif, dan abstain atau tidak berpartisipasi dalam pilkada. “Tentu kalau abstain menjadi pilihan sulit bagi parpol,” jelasnya.
Sejatinya, PKS sudah diajak bergabung oleh Partai Amanat Nasional (PAN) untuk mengusung dr Sagiran. Hanya saja, kata Jupri, PKS enggan bergabung. Alasannya, pasangan yang diusung itu berasal dari Muhammadiyah. Di sisi lain, dua pasangan yang ada, yaitu Sri Surya Widati-Misbachul Munir, dan Suharsono-Halim kental dengan nuansa Nahdlatul Ulama (NU). “Tentu kita tidak ingin ada head to head NU dengan Muhammadiyah,” bebernya.
Nah, beragam pertimbangan itulah yang kemudian mendorong DPD PKS Bantul Minggu (26/7) mengajukan rekomendasi pencalonan Suharsono-Halim ke DPP PKS. Rekomendasi yang baru turun kemarin (28/7) ini langsung disampaikan ke pasangan Suharsono-Halim.
Sebagai pengurus salah satu parpol anggota KMP, Jupriyanto mengimbau agar PAN, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Golkar dan PBB segera bergabung mendukung pencalonan Suharsono-Halim. Tujuannya agar pasangan ini menang dalam pilkada serentak 9 Desember mendatang. (zam/laz/ong)