GUNTUR AGA/Radar Jogja
KLASIK:Penari membawakan beksan Wireng Mandrarini dari Pura Mangkunegaran Surakarta dalam Gelar Jogja Budaya Catur Sagatra di Pagelaran Keraton Jogja, tadi malam (28/7).

Tampilkan Beksan Klasik Empat Keraton

JOGJA – Tujuh beksan klasik Mataram ditampilkan di Pagelaran Keraton Jogjakarta, tadi malam (28/7). Bertajuk Gelar Jogja Budaya Catur Sagatra, kegiatan ini menampilkan tujuh beksan klasik.
Beksan-beksan ini merupakan karya dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu, juga beksan klasik Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kadipaten Mangkunegaran.
“Memasuki lorong sejarah masa silam menggambarkan adiluhung kerajaan Mataram. Etika kehidupan catur sagatara adalah konsep kosmologi Jawa bertumpuk pada makro dan mikro kosmos dan saling melengkapi. Ini adalah saat yang tepat agar keempat dinasti Mataram dibangun kembali untuk trah agung Mataram,” ungkap Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dilanjut memukul Kenong Japan menandai pembukaan Gelar Budaya Jogja Catur Sagatra ini.
Hari pertama (28/7) dibuka dengan Beksan Wireng Mandrarini dan Beksan Wireng Pratama dari Pura Mangkunegaran. Selanjutnya beksan klasik Srikandi Suradewati dan Tugu Wasesa milik Kasultanan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dinas Kebudayaan selaku penyelenggara terus berupaya melestarikan kekayaan tradisi Jogjakarta. Gelar Budaya Jogja Catur Sagatra ini pun merupakan upaya serius menjaga warisan budaya nenek moyang.
“Beksan-beksan klasik ini merupakan peninggalan masing-masing petinggi keraton. Selain seni klasik, juga menghadirkan beragam pusaka, batik, hingga kuliner. Ada pula sajian seni kerakyatan dari kabupaten dan kota di DIJ,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono.
Menurutnya, acara ini menandakan bahwa budaya Mataram sangatlah kuat. Terlebih ragam kesenian ini terus berkembang di masing-masing istana keraton. Namun secara garis besar menandakan bahwa budaya merupakan tonggak kuat istana.
Gelar Budaya Jogja Catur Sagatara sendiri bukanlah hal baru. Kegiatan ini telah ada sejak 1971 yang diinisiasi oleh masing-masing keraton. Seiring waktu berjalan peran serta pemerintah daerah pun semakin kuat.
“Menjadi proses bertemu antara kesenian klasik dengan kerakyatan. Banyak kerakyatan yang berkembang dan terpengaruh kesenian klasik keraton. Tapi kerakyatan juga turut menyokong dinamika seni dan budaya yang ada di setiap keratin,” kata Umar.
Ketujuh beksan ini memiliki corak Wireng. Di mana jalan cerita dari Beksan Wireng bercerita tentang peperangan. Rabu malam (28/7) beksan-beksan klasik dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman pun menghiasi Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadininigrat.
Diawali dengan Beksan Sancaya Kusumawicitra dan Beksan Bandayudha dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ditutup dengan sendratari Langen Beksan Mintaraga dari Kadipaten Pakualaman. (dwi/laz/ong)