SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
KEBUTUHAN POKOK : Bak penampungan air seperti ini menjadi andalan bagi sebagian besar warga di kawasan Prambanan untuk mencukupi kebutuhan air bersih saat musim kemarau sekarang ini.
SLEMAN- Kekeringan kembali melanda kawasan Prambanan. Musibah itu sebenarnya bukan hal baru di wilayah perbatasan Sleman dan Klaten, Jawa Tengah. Setiap tahun, warga selalu mengalami kesulitan air. Baik air bersih untuk kebutuhan rumah tangga maupun irigasi pertanian.
Sampai sekarang belum ada solusi jitu untuk mengatasi musibah tiap musim kemarau tersebut.Semula, pemerintah membangun tiga sistem jaringan pengairan di wilayah tersebut. Namun, kerusakan alat menghambat fungsi jaringan. Droping air selalu menjadi solusi alternatif terakhir.
Anggota DPRD Sleman Prasetyo Budi Utomo menilai, masyarakat tidak bisa selalu mengandalkan droping air. “Problem tahunan itu sebenarnya bisa dipecahkan jika pemerintah pro aktif,” sindir politikus Golkar asal Potrojayan, Madurejo, Prambanan.
Membangun embung dinilai sebagai satu-satunya langkah solutif. Pras, begitu sapaan akrabnya, mengaku telah melakukan sounding ke DPR RI terkait keinginan warga Prambanan agar terbangun embung di wilayah mereka. Menurut Pras, pembangunan embung butuh biaya besar, sehingga permohonan bantuan harus disampaikan ke pusat. “Saya sudah tembusi Mbak Titiek Soeharto,” lanjutnya.
Pras mengatakan, DPR RI dan pemerintah pusat siap mengawal permohonan warga. Dengan catatan ada usulan dari daerah. Tapi sampai sekarang permohonan belum dikirim. Pras sempat mengecek melalui koleganya di DPRD DIJ. Tapi hasilnya nihil. Belum ada pengajuan dari Sleman. “Dari dulu, kok, masih dikaji terus. Lha sampai mana kajiannya,” katanya.
Menurut Pras, wilayahnya masih memungkinkan dibangun embung. Diantaranya, di Desa Gayamharjo. Sebidang tanah kas desa siap dialihfungsikan untuk embung tadah hujan. Selain untuk mengantisipasi kekeringan, embung sekaligus bisa dikelola sebagai sarana wisata.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Julisetiono Dwi Wasito mengatakan, belum akan menetapkan status darurat kemarau di wilayah Prambanan. alasannya, sumber air yang ada dinilai masih mencukupi. “Tekanan air di jaringan masih besar,” katanya.
BPBD menyiapkan 100 tangki air untuk didistribusikan di kawasan rawan kekringan. Itu jika system jaringan air kembali rusak. Salah satunya di Dusun Kalinongko Lor yang sumurnya rusak. Rencananya, pecan depan droping air dilakukan.
Kawasan rawan kekeringan yang tercatat, di antaranya, Gayamharjo, Wukirharjo, Bokoharjo, dan Sambirejo. Ketua Organisasi Pemakai Air Mitra Tirta Pemdes Mujimin mengatakan, akibat sumur rusak, sedikitnya 185 kepala keluarga harus membeli air kepada swasta.(yog/din/ong)

BPBD Tambah Anggaran Doping Air

BANTUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan anggaran droping air menghadapi musim kemarau tahun ini. Sebab, diprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih panjang.
Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto menyebutkan, anggaran dropping air ditambah menjadi Rp 50 juta. Sebelumnya, hanya Rp 30 juta.”Musim kemarau akan lebih lama karena adanya dampak badai El Nino,” terang Dwi, kemarin (28/7).
Selain itu, BPBD juga mengajukan bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pengajuan bantuan melalui BPBD DIJ untuk menghadapi musim kemarau ini senilai Rp 2 miliar.
Besarnya anggaran, kata Dwi, menyusul terbitnya surat keputusan (SK) bupati Bantul. Berdasar SK ini, Kabupaten Bantul akhir tahun ini berstatus siaga bencana. Di samping itu, berdasar pemetaan BPBD setidaknya terdapat 48 dusun yang rawan mengalami kekeringan. Daerah-daerah ini ini tersebar di tujuh kecamatan. “Tetapi yang paling mendesak mendapatkan bantuan sebanyak 16 dusun,” sebutnya.
Sebanyak 16 dusun ini, kata Dwi, tersebar di tiga kecamatan, yaitu Imogiri, Piyungan, dan Dlingo. Belasan dusun ini dianggap paling mendesak mendapatkan bantuan karena memiliki sumber mata air. Namun, belum memiliki peralatan pengelolaannya.
Dwi berharap dengan adanya bantuan ini potensi kekeringan di 16 dusun segera teratasi secara permanen. “Sejauh ini sudah ada satu dusun yang mengajukan dropping air dan sudah kami berikan,” jelasnya.
Dwi mengakui droping air untuk warga Dusun Geger, Seloharjo, Pundong sebanyak 10.000 liter tersebut masih kurang. Air bantuan tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan 115 jiwa yang tersebar di empat RT.
“Jika bantuan dari BNPB belum cair akan kami optimalkan droping air,” ungkapnya.(zam/din/ong)