YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
MERIAH:Camat Seyegan Sutamba memukul gong menandai dimulainya merti dusun dan pameran di Dusun Cibok Lor, Margoluwih, Seyegan kemarin (28/7).
Minat masyarakat berkunjung ke museum tak setinggi dibanding berwisata ke objek-objek wisata rekreasi. Apa yang dilakukan Pemkab Sleman ?
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
Pemkab Sleman berinisiatif menggelar pameran keliling museum. Ya, koleksi museum diusung di stan acara-acara yang diselenggarakan masyarakat. Salah satunya, merti dusun di Dusun Cibok Lor, Margoluwih, Seyegan kemarin (28/7).
Meski hanya sebagian kecil materi yang dipamerkan, museum keliling tak mengubah substansi tujuannya. Yakni untuk edukasi masyarakat. Seperti diketahui, Museum Vredeburg merupakan bangunan cagar budaya peninggalan penjajahan Belanda, yang beriisi benda-benda zaman perang kemerdekaan. “Ini bentuk kemitraan yang saling mendukung. Semoga bias jadi agenda rutin tahunan,” ujar Camat Seyegan Budi Sutamba usai membuka merti dusun dan pameran sejarah perjuangan nasional di Cibok Lor.
Kepala Museum Benteng Vredeburg Zaimul Azzah mengatakan, selain melestarikan adat budaya, pengenalan museum penting untuk sarana edukasi. Pelibatan museum dalam setiap ajang budaya justeru menambah khasanah dunia pariwisata dan edukasi Kabupaten Sleman. Terlebih, museum selain sebagai wahana edukasi juga punya fungsi rekreasi.
Sutamba mengatakan, museum berpotensi meningkatkan intelektual, emosional, dan semangat kejuangan, sekaligus sebagai sarana informasi dan hiburan yang mendidik. Itu khususnya bagi siswa sekolah.
Peran masyarakat terhadap eksistensi museum tak bisa dipisahkan satu dan lainnya. Sebab, museum memerlukan partisipasi dan keterlibatan masayarakat dalam tumbuh dan perkembangannya. “Ini bentuk sosialisasi dan publikasi kegiatan museum dalam upayanya mendekatkan diri kepada masyarakat,” katanya.
Sejalan dengan perkembangan paradigma ilmu permuseuman, lanjut Azzah, museum berusaha mencari peluang untuk melibatkan masyarakat dalam pengembangan kegiatan. Dengan inovasi dan perkembangan keilmuan, museum mulai menerapkan paradigma baru ilmu permuseuman, yaitu paradigma partispatori.
Dalam hal ini museum berupaya meningkatkan keterlibatan dan partisipasi mayarakat, yang sebelumya sebatas sebagai penerima produk. Pada paradigma ini, masyarakat diajak membuat produk. “Keterlibatan mereka sudah pada tahap turut merencanakan dan menyusun produk-produk museum,” jelasnya.
Ajang merti dusun dimeriahkan dengan pameran berbagai produk hasil kerajinan usaha kecil mikro. Seperti, batik dan lurik. Kuliner masakan dan camilan khas Sleman turut meramaikan nuansa pameran yang dihelat hingga 1 Agustus tersebut.(din/ong)