GUNUNGKIDUL – Retribusi wisata di kawasan pantai menjadi sorotan. Pasalnya, diduga kuat selama libur lebaran retribusi telah mengalami kebocoran. Modus pelanggaran tersebut berupa permainan tiket masuk yang dilakukan oleh penjaga tempat penarikan retribusi (TPR)
Temuan ini disampaikan oleh Anggota Komisi B DPRD Gunungkidul Tri Iwan Isbumariyani. Dia menjadi korban permainan oknum penjaga TPR. Dia menceritakan, pada 23 Juli bersama keluarga berwisata ke Pantai Pok Tunggal melalui TPR Tepus. “Waktu itu saya bersama 12 keluarga ditarik Rp 10 ribu per orang namun hanya mendapatkan tujuh tiket saja,” kata politikus PKS ini.
Iwan, sapaannya, menjelaskan,pada saat itu dia tidak menyangka ada permainan oknum petugas TPR. Sebabtiket disteples tapi setelah diteliti lebih detail tiketnya tidak sesuai dengan jumlah orang. Namun karena baru ketahuan setelah mobil yang dikendarai melaju jauh pihaknya tidak menayakan langsung ke petugas jaga. “Kami sangat menyayangkan kejadian ini,” sesalnya.
Atas kejadian tersebut, dia mendesak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Gunungkidul segera mengambil tindakan. Jangan sampai modus menggunakan tiket gabungan itu dibiarkan sehingga merugikan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor wisata.
“Waktu itu, pak kepala dinas mengatakan sudah mampu menekan angka kebocoran, tetapi nyatanya masih terjadi,” ucapnya.
Menurut Iwan, kebocoran ini ada unsur kesengajaan yang dilakukan oknum petugas penjaga tempat pemungutan retribusi. Tindakan melanggar hukum jelas merugikan banyak pihak. Sebab, jika tidak bocor bisa membangun infrastruktur kawasan wisata.
“Kami mendesak disbudpar segeramengusut dan mencegah kebocoran. Ini merupakan tindakan kesengajaan, dan harus segera dihentikan,” tegasnya.
Menanggapi hal ini,Kepala Disbudpar Gunungkidul Saryanto mengaku sudah berusaha menekan kebocoran retribusi. Karena itu, masyarakat diminta melaporkan ke dinas jika terdapat pelanggaran di lapangan.
“Harus jelas kapan waktunya. Sebab, ada dua shift penjagaan. Shift pertama dijaga dari desa. Sedangkan shift berikutnya dijaga oleh petugas dari dinas,” katanya.
Saryanto mengaku terbuka dengan kritik yang diberikan masyarakat. Selain itu, ke depan akan dilakukan evaluasi. Menekan angka kebocoran, pihaknya melakukan penambahan petugas, mendata jalur tikus, dan mengupayakan pintu otomatis.
“Kita akan menambah petugas THL (tenaga harian lepas) untuk mengurangi kebocoran,” terangnya.
Saryanto berharap, wisatawan yang sudah ditarik retribusi membayar sesuai dengan ketentuan. Sebab, banyak wisatawan yang sering menerobos dan tidak mau membayar. “Kami berharap wisatawan juga mematuhi peraturan,” pintanya. (gun/ila/ong)