GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
REGENERASI: Gubernur DIJ HB X bersalaman dengan abdi dalem cilik, Rizki Kuncoro Manik, dalam acara syawalan di Bangsal Kepatihan, Jogja, kemarin (29/7).


JOGJA – Antre bersama ratusan abdi dalem Keraton Jogja lainnya, tidak membuat Rizki Kuncoro Manik mengurungkan niat bersalaman dengan Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X di Bangsal Kepatihan, kemarin (29/7). Meski sebelumnya sudah mengikuti tradisi ngabekten di Keraton, Rizki tetap antusias.
Ditemani kakeknya Suyatiman Cermowicoro dan omnya Lolo Prasetyo, Rizki bersama sekitar seribuan abdi dalem Keprajan dan sebagaian abdi dalem Punokawan Keraton Jogja, mengikuti syawalan bersama gubernur dan Wagub DIJ. “Setiap ada kegiatan di Keraton mesti mau ikut, ini tadi kebetulan sekolahnya juga pulang cepat,” ujar Suyatiman. Rizki saat ini tercatat sebagai siswa kelas 1 di SD Negeri Glagah Jogja.
Menurut Suyatiman, Rizki sudah mulai diajak mengikuti kegiatan di Keraton Jogja sejak usia 15 bulan. Hingga saat ini setiap kegiatan ngabekten maupun Syawalan abdi dalem, Rizki selalu diajak. Bocah kelahiran 27 Oktober 2008 ini, jelas Suyatiman, sudah mengerti suba sito dan tata krama Keraton Jogja. Seperti laku dodok atau sembah sungkem ke raja. “Sama Ngarso Dalem, Rizki selalu dialem,” ujar abdi dalem yang bertugas membuat wayang itu.
Selain Rizki, terdapat ratusan abdi dalem Keraton Jogja lain yang hadir dalam Syawalan ini. Menurut salah seorang abdi dalem, KRT Sumonegoro, dalam Syawalan abdi dalem semuanya bisa ikut, termasuk yang berhalangan mengikuti ngabekten lalu, karena masih bertugas. “Ini kan juga tradisi budaya setelah selesainya puasa, karena kita tidak lepas dari kesalahan,” jelas abdi dalem Kanayan itu.
KRT Sumonegoro mengatakan, Syawalan itu juga dimanfaatkan para abdi dalem untuk bertemu gubernur sekaligus rajanya. Ditanya tentang konflik di Keraton Jogja menyusul keluarnnya sabdaraja, ia mengaku tidak berpengaruh kepada para abdi dalem.
Menurutnya, para abdi dalem ingin mengabdi pada institusi Keraton. “Abdi dalem tidak ikut-ikutan kalau itu. Kami ini hanya abdi budaya,” jelasnya.
Kakek 71 tahun itu mengatakan dirinya berkeinginan menjadi abdi dalem Keraton Jogja, selain mengikuti kakek dan ayahnya, juga karena ingin mengabdikan diri ke Keraton. Sekaligus mendidik anak cucunya dengan budaya Jawa, khususnya Keraton. “Sebagai orang Jawa, tentunya ingin mengabdi, selain itu rumah juga dekat,” jelasnya.
Dengan menjadi abdi dalem, lanjutnya, juga menenteramkan hati. Meski tidak memberikan kelimpahan dalam hal materi, dengan mengabdikan diri ke Keraton banyak membawa berkah. “Kalai jadi abdi dalem itu tenteram, sambil minta restu,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan anggota Polri Ipda Sumarno yang menjadi abdi dalem Keraton Jogja dan mendapat gelar KRT Sumarno Kusumoyudho. Menurutnya, dengan menjadi abdi dalem dirinya banyak belajar hal baru tentang budaya Jawa.
“Ternyata Jawa itu asyik, banyak ajaran Jawa yang kalau diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat jadi sangat nyaman,” jelasnya.
Sumarno yang bertugas di Sub Bagian Terminal Giwangan Jogja ini mencontohkan seperti budaya nrimo. Menurut dia, konsep nrimo dalam Jawa bukannya tanpa berusaha, tapi sudah berusaha sekuat tenaga dan hasilnya diserahkan ke Tuhan. Hal itu pula yang mendasarinya mendaftar sebagai abdi dalem pada 2001 silam.
“Digaji tidak digaji, kami tidak mikir,” ungkapnya.
Warga Celep, Samas, Bantul, ini menerangkan siapa saja bisa mendaftar menjadi abdi dalem Keraton Jogja seperti dirinya. Untuk yang baru masuk, akan mendapat tingkat Wedono, tapi berikutnya bisa naik menjadi Rio Bupati Anom, dan seterusnya. “Biasanya setiap empat tahun sekali kenaikan tingkatnya,” jelasnya. (pra/laz/ong)