Gunawan/Radar Jogja
PERCAYA DIRI: Salah satu paslon Bupati Gunungkidul, Djangkung Sudjarwadi, bergaya di sela menjalani pemeriksaan medis di RSUD Wonosari, kemarin (29/7).
 
 
GUNUNGKIDUL – Usai mendaftar resmi ke Kantor KPUD Gunungkidul, empat pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati mengikuti pemeriksaan kesehatan di RSUD Wonosari. Pemeriksaan kemampuan rohani dan jasmani itu berlangsung dua hari, kemarin (29/7) dan hari ini.
Pemeriksaan kesehatan hari pertama dimulai sejak pukul 7.00. Empat paslon semua hadir. Mereka menjalani rangkaian kegiatan, dimulai dari wawancara psikiatri/pemeriksaan kejiwaan. Kemudian electrocardiografie (EKG), treadmill test, spirometri test, pemeriksaan mata, bedah, ortopedi dan pemeriksaan gigi dan mulut.
Kegiatan ini melibatkan sedikitnya tujuh dokter. “Pemeriksaan jiwa melibatkan dokter ahli RSUD Wonosari yakni dr Ida Rachmawati SpKJ,” ujar Ketua KPUD Gunungkidul M Zainuri Ikhsan kemarin (28/7).
Sesuai nama pendaftar peserta pilkada, peserta tes kesehatan diikuti pasangan Benyamin Sudarmadi-Mustangid, Djangkung Sudjarwadi-Endah Subekti Kuntariningsih, Badingah- Immawan Wahyudi dan pasangan Subardi TS- Wahyu Purwanto.
“Hasilnya maksimal Sabtu (01/08) sudah diterima KPUD dan disampaikan ke masing-masing pasangan cabup-cawabup, ” terangnya.Berdasarkan pantauan Radar Jogja, seluruh pasangan menuju ruang khusus untuk menjalani pemeriksaan minnesota multiphasic personality inventory atau psikotes.
Tes ini mengungkap berbagai hal terkait kondisi psikologi, wawancara psikiatri dan kesehatan jiwa. Dalam pemeriksaan di hari pertama, seluruh pasangan cabup dan cawabup merasa optimistis lolos mengikuti pesta demokrasi di Gunungkidul.
Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Wonosari dr Triyani Heny Astuti mengatakan, untuk pemeriksaan terakhir dilakukan besok (hari ini, Red). Semua paslon dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan pemeriksaan.
“Hari terakhir, seluruh paslon pada malam hari sebelum pemeriksaan hanya diperkenakan minum air putih,” kata Triyani Heny Astuti.
Adapan jenis kegiatan pemeriksaan di antaranya, pengambilan sampel darah puasa (GDN), pemeriksaan foto rontgen thoraks, ultrasonografie abdomen, pemeriksaan ultrasonografie transvaginal (bagi perempuan).
Kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah dua jam setelah makan (DDP), pemeriksaan audiometri nada murni/pemeriksaan THT, pemeriksaan neuologi dan pemeriksaan penyakit dalam.

Tuding Ada Sandiwara Politik

Berubahnya sikap sejumlah partai politik (parpol) yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) pada hajatan pilkada di Bantul, membuat Ketua DPD PAN Bantul Machmud Ardi Widanto meradang. Dia menilai ada sandiwara politik pada proses pilkada yang akan digelar serentak 9 Desember.
Ada sebuah sandiwara demokrasi untuk memunculkan calon. Sepertinya ada transaksi dengan kubu sebelah,” tuding Ardi. Bagi Ardi, munculnya pasangan Suharsono-Halim terkesan mendadak. Terlebih, bergabungnya PKS dengan Partai Gerindra dan PKB. Tentu ini kemudian memunculkan asumsi liar jika pencalonan Suharsono-Halim karena adanya pesanan. Tujuannya agar tak terjadi penundaan pilkada lantaran tidak adanya lawan bagi pasangan Sri Surya Widati-Misbachul Munir.
“Karena berkomitmen mengusung satu calon. Di last minutes malah mencalonkan,” keluhnya.
Karena itu, Ardi pun menilai, KMP dikhianati oleh Partai Gerindra dan PKS. Lalu bagaimana sikap PAN menghadapi pilkada? Ardi menegaskan, PAN akan bersikap abstain. PAN tidak akan mendukung salah satu pasangan calon.
“Partai-partai lain sepertinya juga begitu,” tambahnya.
DPC PPP Bantul dan DPD Partai Golkar Bantul belum dapat dikonfirmasi. Ketua DPD Partai Gerindra DIJ Noeryanto membantah pencalonan Suharsono-Halim lantaran adanya pesanan. Bergabungnya dua parpol yang tergabung dalam KMP dan KIH mengusung satu pasangan calon karena adanya kesamaan visi-misi untuk memajukan Kabupaten Bantul.
“Istilah KMP-KIH sudah tidak berlaku dalam pilkada. Yang ada Koalisi Jogja Istimewa,” kelakarnya.
Selain itu, sikap ini karena adanya keleluasaan yang diberikan DPP Partai Gerindra. Menurutnya, Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto memberikan intruksi DPD/DPC Partai Gerindra boleh berkoalisi dengan parpol manapun. Itu sebabnya, kata Romo Noer, sapaan akrabnya, Partai Gerindra membuka peluang bagi parpol manapun untuk bergabung dan memenangkan pasangan Suharsono-Halim.
“Yang sudah pasti bergabung PKS dan Demokrat,” jelasnya.
Pertimbangan membuka kesempatan bagi parpol mana pun juga karena beratnya menghadapi pasangan incumbent Sri Surya Widati. Romo Noer memprediksi pasangan Suharsono-Halim akan menang dengan selisih perolehan suara yang cukup tipis.
Senada disampaikan Suharsono. Dia menegaskan, pencalonannya murni karena ingin membawa angin perubahan di Kabupaten Bantul. Tidak ada istilah calon boneka atau unthul dalam pencalonannya. “Demi Allah. Demi Tuhan. Saya akan maju dengan semangat untuk kemajuan dan kesejahteran Bantul,” tandasnya. (gun/zam/laz)