SETYAKI/RADAR JOGJA
KOMPAK: Personel TNI-AU dalam parade defi le pada puncak acara Hari Bhakti ke-68 TNI Angkatan Udara di Lapangan Dirgantara Kompleks AAU, Jogjakarta, kemarin (29/7).
SLEMAN – Sebagai puncak acara Hari Bhakti ke-68 TNI Angkatan Udara, diperingati dengan upacara militer di Lapangan Dirgantara kom-pleks Akademi Angkatan Udara, Jogjakarta, Rabu (29/7). Bertindak sebagai inspektur upacara, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Mar-sekal TNI Agus Supriyatna.KSAU mengatakan, anggota TNI AU agar selalu mengenang kete-ladanan, pengabdian, dan peng-orbanan para pejuang dalam membela, dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”Jajaran TNI AU harus terus me-ningkatkan kualitas pengabdian-nya kepada bangsa dan negara. Meskipun saat ini masih dihadap-kan dengan berbagai keterbatasan dalam berbagai hal, baik Alut-sista maupun sumber daya ma-nusianya,” tandasnya.
Selain itu, upacara tersebut juga untuk memperingati operasi per-tama serangan udara TNI AU yang melakukan pemboman terhadap pertahanan Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga, pada 29 Juli 1947 silam.”Pada hari yang sama, tiga perintis berdirinya TNI AU gugur setelah pesawat Dakota VT/CLA yang me-reka tumpangi dalam operasi ke-manusiaan dengan membawa obat-obatan dari Palang Merah Malaya, ditembak oleh pesawat Kity Hawk, Belanda. Dan jatuh di Desa Ngoto, Sewon, Bantul,” tambahnya.KSAU menambahkan, perjuangan dan pengabdian saat ini telah mengalami perubahan. Yaitu sei-ring dengan perkembangan ling-kungan strategis, sehingga tugas dan tantangan ke depan yang dihadapi tentunya akan semakin berat dan kompleks. “Dengan meneladani semangat pantang menyerah, saya yakin dan percaya bahwa seluruh prajurit TNI AU tidak akan pernah meny-erah dalam kondisi apapun untuk mengerahkan segala kemampuan-nya untuk bangsa dan negara,” pungkasnya. (cr3/jko/ong)