SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
MANIAK AKIK: Gusti Prabu melihat-lihat batu mulia atau batu akik sesaat setelah membuka pameran dan kontes batu mulia di Ndalem Notoprajan, Jogja, tadi malam (29/7).
JOGJA – Pameran dan kontes batu mulia di Ndalem Notoprajan, Jogja, resmi dibuka oleh GBPH Prabukusumo, tadi malam (29/7). Di depan tamu undangan dan sekitar 60 pemilik stan pameran, Gusti Prabu, demikian sapaan akrabnya, bercerita tentang pengalamannya mengoleksi batu mulia, khususnya akik. Ia juga menceritakan makna di balik warna sebuah batu mulia. Misalnya warna kuning dan merah.
“Kuning itu melambangkan vitalitas. Sedangkan merah adalah cermin keberanian. Seorang pemimpin itu harus berani,” ungkap Gusti Prabu.
“Pemimpin itu jangan kalah dengan pengaruh istri,” ucap pangeran yang lahir dengan nama BRM Harumanto tersebut.
Entah kebetulan atau tidak, usai Gusti Prabu memberikan sambutan acara dilanjutkan dengan ditampilkannya lukisan karya Djoko Pekik. Pelukis kenamaan yang populer dengan karya berjudul Celeng itu menghadirkan tiga karyanya. Tiga lukisan itu bertema soal sabdatama, sabdaraja, dan pembangunan bandara. “Lukisan ini menggambarkan dampar kencana atau singgasana raja kosong. GKR Pembayun akan duduk di singgasana, tapi kemudian mengantuk, sehingga belum dapat duduk di singgasana,” ungkap Luwy, seorang konsultan spiritual yang kebagian tugas menjelaskan makna di balik lukisan Djoko Pekik.
Lukisan berjudul sabdaraja kemudian laku terjual seharga Rp 50 juta, dibeli pemilik aksesoris mobil Kupu-Kupu Malam.
Ketua Panitia RM Lanang Hadiwidjojo menjelaskan, pameran yang didukung berbagai pihak ini akan berlangsung hingga (2/8). Dalam pameran itu juga diadakan kontes batu mulia pada (1/8) dan (2/8). Selain lukisan Djoko Pekik, juga dimeriahkan pameran bonsai dan laboratorium pengolahan batu mulia. Pembukaan pameran juga dihadiri tamu undangan, seperti mantan Kapolda DIJ Irjen Pol (purn) Haka Astana, kerabat Pakualaman KPH Wiroyudho, pengusaha Hans Purwanto, dan beberapa undangan lainnya. (kus/jko/ong)