DARI banyaknya orang yang terjerumus atau terbelit dalam dunia hitam narkoba, sebagai besar adalah pelajar. Seseuai catatan Badan Narkotka Nasi onal Kota (BNNK) Jogja, untuk tingkat DIJ, korban narkoba sebanyak 62.029 orang. Dari jumlah ter-sebut, 40 persen di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa.Itulah yang membuat prihatin Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Jogja Saptohadi.
Menurutnya, penanggulangan bahaya narkoba perlu dilakukan secara serius. Salah satu lembaga yang memiliki peran penting untuk mengerem kasus narkoba, adalah sekolah. “Peran sekolah membatasi ruang gerak narkoba di kalangan pelajar merupakan faktor terpenting. Sehingga sekolah perlu membuka diri dengan adanya program penanggulangan termasuk dari BNN,” ujarnya.Menurut Saptohadi, hingga saat ini, tidak sepenuhnya sekolah sadar. Bahkan ada beberapa yang menutup diri akan peran BNN, karena menganggap sebagai bentuk intervensi. Padahal se-jatinya untuk membatasi ruang gerak narkoba.
“Intervensi melalui beberapa program dengan sasaran para pelajar. Sekolah perlu meng-gandeng lembaga lainnya untuk penanggulangan seperti BNN atau kepolisian. Sehingga penting bagi sekolah untuk terlibat aktif,” ungkapnya.Menurutnya, BNN tidak se-penuhnya bisa mengawasi pe-lajar. Sehingga peran langsung sekolah dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Salah satunya dengan pembentukan satgas pencegahan yang beranggota-kan pelajar. Dipilihnya pelajar karena memiliki kedekatan emosional. Di sisi lain, juga dapat menjadi role model bagi pelajar lain. (dwi/jko/ong)