SETAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
ASLI ATAU PALSU: Petugas lab saat menguji keaslian batu mulia dalam pameran dan kontes batu mulia di Ndalem Notoprajan Jogja, kemarin (30/7).
JOGJA – Dalam satu tahun terakhir, batu akik telah menjadi tren bagi banyak kalangan termasuk di kalangan anak muda. Sehingga permintaan batu mulia jauh lebih tinggi diban-dingkan tahun- tahun sebelumnya. Booming batu mulai, dikhawatirkan memunculkan akik-akik atau batu mulaisentetis atau buatan. Untuk lebih meyakinkan dan mengetahui kandungan dan jenis batu, ada baiknya dites di laboratorium.Yosof Mahdiansyah, Kepala Ope-rasional Avian Noor Gems Lab men-gatakan, dengan boomingnya batu akik, masyarakat baiknya tidak hanya mendapatkan keuntungan secara finansial dari jual beli batu. Namun juga paham jenis-jenis batu secara internasional atau universal. Tidak hanya asal nama-nama daerah.”Laboratorium, diperlukan untuk memberikan edukasi kepada pembeli dan penjual tentang batu mulia dan keasliannya,” katanya kepada Radar Jogja di tempat pameran dan kontes batu mulia di Ndalem Notoprajan Jogja, kemarin (30/7).
Menurut Yosof, dengan dites di laboratorium, para pembeli dan penjual dapat tahu apakah itu batu alam asli atau sintetis buatan pabrik, bahkan imitasi. “Mengedukasi pedagang dan pembeli, jujur dengan apa yang dijual. Kadang kala bisa jadi pedagang itu jujur, tapi dia tidak tahu kalau batunya itu asli apa tidak. Belinya sudah kadung mahal, dijual mahal, ternyata sintetis misalnya,” terangnya.Batu permata, dapat dibedakan menjadi batu alam asli, batu sinte-tis dan imitasi. Batu alam asli ada-lah batuan yang memang dibentuk dan didapat dari alam. Kandungan materialnya tidak mengalami penam-bahan (treatment) yang mengubah berat jenis dan warnanya.Sedangkan batuan sintetis adalah batu yang memiliki material batu alam, namun mengalami campur tangan manusia. Bisa jadi, proses pemben-tukannya atau yang mempengaruhi warnanya.
“Biasanya itu banyak dari Thailand, kandungannya batu, tapi tidak natural. Kalau imitasi ya bukan batu, bila glases, silika, resin, kaca atau material lain,” ungkapnya.Dengan dites di lab, batu yang di-jualbelikan mendapatkan sertifikat mengenai penamaan jenis batu mengikuti standar lab internasional. “Sehingga, pedagang ketika men-jual barang di Indonesia atau ke luar negeri namanya sama. Kalau yang masih ada sekarang kan macam-macam. Tergantung asal daerah atau penamaan lokal,” katanya.Dengan maraknya pameran dan menggeliatnya batu mulia dia ber-harap masyarakat mengerti batu bukan hanya bahasa lokal saja. Namun juga paham dengan batuan secara universal. “Dan juga cinta produk dalam negeri. Karena produk lokal tidak kalah dengan produk batu luar negeri,” ujarnya. (cr3/jko/ong)