TAHURA FOR RADAR JOGJA
RAKER TAHURA: Dari kiri, Kepala Balai Pengelolaan Tahura Ir Niken Aryati MP, Kepala BKPM DIY Drs Totok Prianamto, Kabid Perekonomian Bappeda DIY Ir Sugeng Purwanto MMA, dan Kabid Perencanaan dan Promosi BKPM DIY Drs Sinang Sukanta MSi.
TAMAN Hutan Raya atau Tahura Bunder Gunungkidul mendapatkan perhatian kalangan yang lebih luas tak terbatas Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY saja. Badan Kerjasama dan Penanaman Modal (BKPM) DIY juga menaruh atensi serupa. Itu ditandai dengan langkah BKPM memprakarsai di-gelarnya raker yang secara khusus membahas upaya menarik investor ke Tahura pada Senin (27/7).Raker yang berlangsung di ruang rapat Pemkab Gunungkidul tersebut dibuka Kepala BKPM DIY Drs Totok Prianamto dan dihadiri sejumlah sa-tuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait, serta perwakilan lima desa yang berlokasi di sekitar kawasan Tahura.
Dalam pembukaannya, kepala BKPM berharap, ke depan investor yang akan meramaikan kawasan Tahura bukannya investor raksasa, melainkan pengusaha berskala me-nengah. Bahkan kalau memungkin-kan, ada penduduk setempat yang membuka kuliner dan penginapan. “Tidak usah bintang empat ke atas. Tapi, homestay yang justru mendu-kung ciri khas Tahura dengan kekua-tan wisata alamnya,” ungkap Totok.Kepala Bidang Perekonomian Bap-peda DIY Ir Sugeng Purwanto MMAmenjelaskan, Tahura merupakan pintu masuk Gunungkidul. Sampai saat ini, wisatawa kesulitan men-cari obyek wisata lain maupun penginapan bila sudah melancong ke sejumlah pantai di Gunungkidul. “Tahura lah yang akan menangkap peluang itu bila bisa memberikan fasilitas penginapan yang berciri khas wisata alam, serta kuliner siang ma-lam yang menyajikan menu-menu khas Gunungkidul,” tambah Sugeng.
Sebab, bila tidak dipersiapkan penginapan, penjualan suvenir mau-pun kuliner khas Gunungkidul, maka daerah setempat tidak akan mendapatkan apa-apa. Masih berun-tung kalau wisatawan itu menginap di Yogya atau Sleman. “Lha kalau hanya memanfaatkan one day tour dan pelancong segera terbang ke Bali, misalnya. Apa itu tidak sama dengan hanya meninggalkan sampah di Gunungkidul?,” ujar Kabid Perekonomian Bappeda ini.Satu hal lagi yang menjadi kekuatan Gunungkidul khususnya Tahura adalah sejarah purba yang ada di kawasan setempat dengan bebatuan karstnya yang memang asli, dan konon menurut penelitian para ahli umur-nya di atas 90 juta tahun.”Ini menjadi sebuah wisata minat khusus yang mengangkat Tahura sebagai ajang penelitian yang akan mendunia,” ungkapnya.
Kabid Perencanaan dan Promosi BKPM DIY Drs Sinang Sukanta MSimenambahkan, Sungai Oya seba-gai kekuatan alam di Gunungkidul sangat indah dan eksotis bila musim kering tiba. Bebatuan yang cokelat keputih-putihan sangat menarik pelancong untuk berlama-lama di bentangan Sungai Oya yang mem-belah Tahura. Sinang berharap, warga setempat hendaknya jangan hanya sebagai penonton saja, melainkan ikut terlibat dalam pengelolaan Tahura sesuai arahan Balai Pengelolaan Tahura. Kepala Balai Pengelolaan Tahua Ir Niken Aryati MP menjelaskan, pihaknya menganggap masyarakat yang tinggal di kawasan penyangga Tahura adalah keluarga besar Tahura Dishutbun DIY. Sebab, masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Tahura adalah satu dari tiga pilar pendukung Tahura. Adapun ketiga pilar tersebut ada-lah pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.Ditambahkan, sejak 2004 adalah prakondisi mempersiapkan Tahura sebagai kawasan konservasi, wisata, dan pendidikan. Ke depan perlu payung yang tegas yakni regulasi. Memasuki 2015 ini sudah harus siap menerima kunjungan wisata, dan mendampingi lembaga atau perorangan yang hendak melakukan studi maupun penelitian di Tahura.
Di dalam Tahura ada tujuh aktivi-tas yang diizinkan. Di antaranya, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, koleksi kekayaan keanekaragaman hayati, pariwisata alam, serta melakukan penanaman tanaman langka sejak 2010. Ke depan, warga di sekitar kawa-san Tahura dapat melakukan akti-vitas setelah mengantongi izin usaha dalam rangka mendukung wisata alam. Itu baik dalam kapa-sitas sebagai kelompok tani hutan Tahura, maupun perorangan. “Sebaiknya petani setempat mem-bentuk koperasi supaya lebih kuat karena dalam koperasi ada modal dasar, AD/ART, dan sebagainya,” saran Niken.
Untuk diketahui Provinsi DIY me-miliki hutan negara seluas sekitar 18.000 hektare atau 5,36 persen dari luas wilayahnya. Dalam peng-elolaannya, 628,05 hektare berada di bawah naungan Balai KSDA Yogyakarta, 1.728,28 hektare be-rada di bawah TNGM, 634,10 hek-tare sebagai Tahura, dan 15.724,5 hektare di bawah naungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY. “Dari luasan hutan tersebut sebagian besar kawasan hutan berada di Kabu-paten Gunungkidul yaitu sekitar 13.000 hektare. Salah satu potensi hutan Gunung-kidul yang dapat dikembangkan men-jadi kawasan pariwisata alam adalah kawasan hutan Bunder Kecamaan Playen, dan Kecamatan Patuk Gunung-kidul,” ujar kepala Balai Pengelolaan Tahura ini. (*/kus/jko/ong)