GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
HUJAN LOKAL: Hujan mengguyur Kota Jogja pada sore kemarin (30/7). Seorang pejalan kaki melindungi kepalanya menggunakan kain saat hujan mengguyur kawasan Kleringan.
JOGJA – Meski sebagain wi-layah Kota Jogja, pada Kamis sore (30/7) diguyur hujan ringan, tetap membuat Badan Penang-gulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ waspada. Untuk persiapan menghadap bencana kekeringan, BPBD DIJ sudah mengajukan dana on call atau siap pakai ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).”Kami dari BPBD DIJ sudah mengajukan dana on call ke BNPB untuk antisipasi keke-ringan sebesar Rp 6 miliar,” kata Kepala BPBD DIJ Gatot Saptahadi seusai rapat kerja di DPRD DIJ, kemarin (30/7).
Menurut Gatot, nilai yang di-ajukan tersebut setelah berko-ordinasi dengan seluruh BPBD kabupaten dan kota di DIJ. “Itu bukan dana yang berlebihan, karena sebelum membuat usu-lan dana ini, terlebih dulu kami lakukan koordinasi dengan seluruh BPBD kabupaten dan kota se-DIJ,” tandasnya
Gatot menambahkan, dana on call tersebut bukan berarti akan dicairkan semuanya. “BNPB masih akan melakukan verifi-kasi,” ujarnya.Selain itu, salah satu persya-ratan pencairan dana on call, juga harus melengkapi syarat administrasi. Di antaranya ada-nya status darurat kekeringan yang dikeluarkan oleh gubernur. Sementara, hingga saat ini Gu-bernur DIJ belum mengeluarkan status darurat kekeringan, meski Gunungkidul dan Sleman sudah mengajukan. “Sampai sekarang Pak Gub belum teken (status darurat kekeringan),” ujarnya.Gatot menambahkan, dana on call tersebut hanya bisa diguna-kan untuk tiga bulan pelaks-anaan. Sehingga tidak akan di-gunakan untuk kegiatan fisik. “Nantinya akan digunakan un-tuk kegiatan seperti dropping air, atau pembangunan pipa saluran untuk mendekatkan pelayanan ke masyarakat,” tu-turnya.
Hingga saat ini, lanjut pejabat yang disebut-sebut akan men-jadi Plt Bupati Sleman ini, ke-giatan rutin dropping air tetap berjalan seperti biasa dan masih bisa dilakukan oleh kabupaten. Dirinya juga menilai, meski be-berapa wilayah seperti Jawa Barat sudah darurat kekeringan, kondisi di DIJ belum separah itu. “Masih bisa ditangani, drop-ping air juga lancar,” jelasnya.Sementara itu, Staf Data dan In-formasi Badan Meteorologi Kli-matologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Indah Retno Wulan memprediksi, musim kemarau tahun ini lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, di-prediksi sekitar pertengahan Agus-tus wilayah DIJ juga berpeluang terkena dampak el nino. “Kalau intensitas el nino masuk kategori menengah, wilayah DIJ akan ter-dampak,” katanya.
Dari catatan BMKG Jogjakarta, musim kemarau tahun lalu, lo-kasi kekeringan paling banyak tersebar di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. Kondisi ke-keringan mulai 31-76 hari tanpa hujan. Tercatat pula 29 kecama-tan di DIJ yang kesulitan menda-patkan air bersih akibat musim kemarau atau kekeringan. Satu di antara wilayah yang paling parah ialah Kecamatan Playen, Gunungkidul yang harus men-ghadapi 76 hari tanpa hujan. (pra/jko/ong)