Siapa tak kenal Sri Purnomo dan Yuni Satia Rahayu. Selama lima tahun terakhir, keduanya menjadi tokoh sentral di wilayah Sleman. Kini, keduanya bersaing menjadi yang terbaik demi menakhodai Bumi Sembada untuk lima tahun ke depan.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
SEPULUH tahun lalu, Sri Purnomo buk-anlah siapa-siapa. Guru di sebuah madrasah tsanawiyah sejak 1984, Sri mulai berkiprah di dunia politik ketika didaulat mendampingi Ibnu Subiyanto pada 2005. Lima tahun menjadi wakil bupati, sosok kelahiran Klaten (Jawa Tengah), 22 Febru-ari 1961 itu mulai mendapat kepercayaanpublik. Disengkuyung partai-partai besar, Sri yang berdampingan dengan Yuni ber-hasil memenangi pilkada 2010 dengan suara mutlak, setelah membukukan 174.571 suara pemilih (35,2 persen).
Pasangan yang diusung PDIP dan Koalisi Sembada itu men-gungguli enam pasangan calon lainnya.Lima tahun, Sri dan Yuni berkolaborasi membangun Sleman hingga harus “berce-rai” pada pilkada 2015. Keduanya pilih ber-jalan sendiri-sendiri. Namun tetap dengan tujuan sama. Yakni, menyejahterakan ma-syarakat Sleman. Di bawah komando Sri, beragam peng-hargaan nasional berhasil diraih Pemkab Sleman. Di antaranya Satyalancana Pembangunan dari presiden atas kiprah membangun koperasi dan usaha kecil me-nengah. Puncaknya adalah penghargaan Samkarya Nugraha Parasamya Purna Karya Nugraha
Pemberian anugerah dari pre-siden itu lantaran dianggap mampu menjadi yang terbaik dalam penyelenggaraan pemerin-tahan daerah selama tiga tahun berturut-turut.Sri selalu menganggap pre-stasi yang diperoleh bukanlah hasil individu. Tapi kiprah seluruh pegawai pemerintah dan masy-arakat. “Yang penting, kerja ha-rus selalu on the track. Utamanya untuk mewujudkan kesejahte-raan rakyat,” ungkap Sri.
Kesibukan sebagai orang nomor satu di Sleman, tak menyurutkan kebiasan Sri untuk menyapa warg-nya. Tak jarang, alumnus Magis-ter Ekonomi Syariah UII itu turun lapangan, meski sekadar men-ghadiri kegitan setingkat RT. Ba-hkan, di acara-acara pribadi. Dari situlah nama Sri, yang pernah menjabat ketua umum pimpinan daerah muhamma-diyah (PDM) Sleman 2006-2010 itu makin dikenal masyarakat. Kini, warga Jaban RT 006/ RW 034, Tridadi, Sleman itu diusung lagi sebagai calon bupati oleh delapan partai (PAN, Nasdem, Golkar, PKB, PPP, Demokrat, Hanura, dan PBB), berpasangan dengan Sri Muslimatun.
Selain didorong oleh sebagian masyarakat Sleman, pencalonan kembali Sri tak lepas atas du-kungan keluarganya. Kustini, istri Sri Purnomo, selalu setia mendampinginya dalam berba-gai kesempatan, baik agenda pemerintahan maupun pribadi. Tak terkecuali tiga orang anak Sri Purnomo, Aviandi Okta Maulana, Nudia Ramanda Pangesti, dan Raudi Akmal. Ketiganya kompak untuk mendudukkan kembali ayahnya di kursi Sleman 1.
Demikian pula Yuni Satia Ra-hayu. Aktivis perempuan yang akrab disapa Neny ini mendapat dukungan penuh dari keluarga-nya. Kiprah politik tokoh kelahi-ran Ngawi, 28 Juni 1968 itu tak lepas atas peran suaminya, Mu-hammad Yamin, yang seorang politikus PDIP.Selama menjabat wakil bu-pati, ibu dua anak, Nabiel Ahmad dan Nadine Cahya Annisa, itu tetap aktif dalam kegiatan so-sial dan pemberdayaan perem-puan. Pramuka, gerakan anti narkoba, dan pendampingan korban kekerasan anak dan pe-rempuan sudah menjadi agen-da hariannya.Diusung oleh PDIP, Gerindra, dan PKS, warga Perum Batan Nomor 21, Gang Perkutut, Pu-geran 3, Maguwoharjo, Depok itu optimistis mampu menja-lankan peran sebagai seorang bupati.
Setidaknya, pengalaman lima tahun sebagai wakil bu-pati cukup sebagai modal. Untuk pemenangan pilkada, Yuni di-pasangkan dengan tokoh muda, Danang Wicaksana Sulistya.Pemberdayaan pasar tradisio-nal termasuk salah satu fokus Yuni dalam membangun eko-nomi masyarakat. Tak heran jika di sela kesibukannya seba-gai pejabat publik, Yuni kerap menerima tamu dari kalangan bakul pasar, tukang sampah, hingga pedagang kaki lima.”Sudah selayaknya wong cilik diangkat derajatnya agar bisa hidup sejahtera,” ujar penyuka kacang rebus itu.
Peraih gelar doktoral ilmu po-litik dari Fakultas Sains dan Ke-manusiaan, Universitas Ke-bangsaan Malaysia itu juga konsen dalam mewujudkan perbaikan fasilitas PAUD dan ruang terbuka publik. Itu tak lepas dari upaya menciptakan Sleman sebagai kabupaten layak anak. Yuni bercita-cita membangun kawasan taman rekreasi kelu-arga, yang dipenuhi sarana edu-kasi anak. “Ya itu, harapan saya mengembalikan Sleman sebagai miniatur Indonesia,” tandas Yuni.(jko/ong)