RADAR JOGJA FILE
AKRAB :Anjangsana Bupati Sleman Sri Purnomo dan Wakil Bupati Yuni Satia Rahayu ke rumah-rumah mantan bupati dan wakil bupati menjelang peringatan HUT Sleman (5/5).

Potensi Golput Tinggi dan Munculnya Calon Unthul

Kepiawaian Ibnu Subiyanto dalam berpolitik maupun menakhodai Bumi Sembda tak diragukan lagi. Apa pandangannya tentang Pilkada 2015 mendatang?
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
DUA KALI memenangi pilkada (1999 dan 2005) menjadi bukti sosok ekonom yang kini aktif mengajar di salah satu kampus terkemuka di Sleman itu se-bagai politikus handal yang berjiwa petarung. Namun, dalam pilkada 2015 Ibnu sedikit pesimistis dengan para bakal calon bupati.
Itu lantaran keduanya, Sri Purnomo dan Yuni Satia Rahayu, adalah tokoh pemerintahan. Dengan begitu, keduanya punya sisi dan pola pikir hampir serupa. Padahal, masya-rakat menginginkan “hidangan” yang berbeda. Ibnu berfikir, dalam perhelatan pil-kada kali ini, masyarakat “dipaksa” untuk memilih calon sesuai kepen-tingan partai. “Parpol justru menyo-dorkan calon yang berbeda dengan harapan masyarakat,” ungkapnya saat berbincang dengan Radar Jogja di Jaln Palagan kemarin (30/7).
Ibnu menilai, konstalasi pilkada berpotensi memunculkan golput cu-kup tinggi. Setidaknya, jika dibanding pemilu legislatif 2014, akan lebih ba-nyak warga abstain (tak memberikan hak suara). Jika itu terjadi, menunjuk-kan gairah politik rendah. “Sebagai pengamat, kasus ini saya sebut ano-mali pilkada,” lanjutnya.
Bukan rahasia jik parpol hanyalah kendaraan politik untuk meraih ke-kuasaan. Banyak konflik kepentingan di internal partai. Dalam hal ini, Ibnu melihat sepak terjang Partai Golkar, yang tak menunjuk kader sendiri sebagai calon bupati atau wakil bupati.Partai beringin justeru menyodorkan Sri Muslimtun, yang notabene kader PDIP. Bukan berarti sosok yang dipi-lih tidak kompatibel. Tapi faktanya, Golkar tak mengusung calon sendiri untuk disandingkan dengn Sri Purnomo.”Itu berarti (Golkar) tak be-rani ambil risiko dalam lomba ini. Padahal masih banyak kader terbaik tapi tidak ditampilkan,” ungkapnya menganalisis.
Bagi Ibnu, itu aneh. Ibnu khawatir, kondisi ini akan berimplikasi pada strategi negatif partai untuk peme-nangan calon. Ibarat perlombaan, pilkada untuk memilih yang terbaik. Tapi, kali ini bisa sebaliknya. Masing-masing kubu akan mencari kelemahan lawan. Apalagi, hanya ada dua pasangan calon. Perang urat syaraf sudah pasti bakal terjadi.” Agar yang dianggap jelek jangan dipilih,” lanjutnya.Dalam pilkada kali ini, lanjut Ibnu, parpollah yang diuntungkan. Ibnu mencium ada aroma mahar politik yang harus dikeluarkan oleh para ca-lon. Apalagi, untuk mendapatkan surt rekomendasi harus sampai ke pusat. “Mungkin begitu. Dan itu terjadi bukan hnya di Sleman. Bahkan, saya dengar ada yang tak mau teken surat karena minta tambah,” bebernya.
Menurut Ibnu, munculnya mahar politik pilkada disebabkan oleh atu-ran pusat, yang justeru membuka peluang permainan terselubung. Dalam konteks pilkada di DIJ, Ibnu menilai Gunungkidul lebih meriah dan dinamis. Bukan saja karena diik-uti empat pasangan calon. Tapi lan-taran munculnya calon independen. Adanya calon independen merang-sang parpol untuk mengusung kader sendiri. Dengan begitu, calon kuat tak mudah diatur oleh partai untuk kepentingan tertentu. Misalnya, memunculkan calon “unthul” agar pilkada tak ditunda lantaran hanya ada satu pasangan calon. Dalam kasus tersebut, calon incum-bent-lah yang harus merogoh kocek untuk membiyai calon boneka itu.”Semakin banyak calon, mahar politik bisa ditekan. Bahkan cenderung tidak ada,” tegasnya. (din/ong)