MUNGKID – Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral (DPU ESDM) be rencana mengirimkan surat ke Per-wakilan Bank Jerman, Kreditanstalt Fur Wiederaufbau (KfW) di Indonesia awal Agustus ini. Surat resmi ini terkait ke-jelasan pemberian bantuan hibah senilai Rp 200 miliar dari Bank Jerman, Kreditanstalt Fur Wiederaufbau (KfW) ke Pemkab Magelang. Rencananya, kejelasan bantuan diberikan pada Juli ini. Namun, hingga akhir Juli, bantuan juga belum ada kejelasan.”Sesuai informasi pada Juli ke-pastian bantuan dari Jerman akan turun. Tetapi, hingga akhir bulan belum ada kejelasan. Untuk itu, kami berencana me ngirimkan surat pada awal Agustus untuk menanyakan kepastian bantuan,” kata Kepala DPU ESDM Kabu-paten Magelang Sutarno kema-rin (30/7).
Pemkab Magelang berharap bisa menjadi salah satu pe nerima bantuan hibah tersebut. Meng-ingat, tempat pembuangan sam-pah akhir (TPSA) yang dimiliki saat ini terbatas hanya 1,8 hektare yang berada di Tempat Pem-buangan Akhir (TPA) Pasuruhan) dan 0,8 hektare TPA Klegen di Grabag.”Dari dua TPA tersebut, kami baru bisa menjangkau dan me-layani 7 dari 21 kecamatan yang ada. Harapannya, setelah mem-peroleh bantuan tersebut, kami bisa melayani seluruh kecamatan,” tegasnya.Selain itu, Pemkab Magelang berharap bisa memiliki TPA dengan luasan minimal 10 hektare. Dengan begitu, selama 20 tahun ke depan, pemkab tak perlu pusing memikirkan masalah soal sampah.Dijelaskan, DPU ESDM terakhir menjalin komunikasi dengan konsultan bank Jerman per-tengahan Juni lalu. Saat itu, Sutarno dan perwakilan dari 8 kota/ kabupaten mengikuti rakor evaluasi bersama Kemen PU Pera dan konsultan.
“Infonya, mau diberi keputusan pada Juli, tapi sudah akhir bulan, belum ada pemberitahuan sama sekali. Saya menghubungi juga tidak bisa. Mungkin nanti awal Agustus saya kirim surat,” jelasnya.Sebelumnya, perwakilan kon-sultan bank Jerman sempat meninjau lokasi TPA Pasuruhan dan calon lokasi yang akan di-bangun untuk TPA baru. Tim menilai, pengolahan sampah di daerah ini ketinggalan zaman.Seharusnya, ungkap Florian Kolch dari KfW saat itu, sampah yang ditampung di TPA tak bisa dilihat secara kasat mata. “Perlu dipisahkan mana yang masih bisa didaur ulang. Sehingga sampah yang masuk TPA hanya ampasnya,” kata Florin. (ady/hes/ong)