GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
LNGSUNG PINDAHAN: Sejumlah pedagang kaki lima memindahkan lapak dagangannya saat menempati lokasi baru di sisi timur Alun-Alun Utara Jogja, Kamis (30/7).
JOGJA – Sesuai dengan arahan Gubernur DIJ Sri Sultan Hameng-ku Buwono (HB) X agar penyele-saian revitalisasi Alun-Alun Utara (Altar) dikebut, dan harus sudah selewai sebelum 17 Agustus, se-cara bertahap proyek yang sudah selesai, mulai diresmikan.Adalah kawasan Altar sisi timur menjadi yang pertama kali dires-mikan, kemarin (30/7). Menyusul proses pembangunan gerobak dan lapak semi permanen untuk PKL di sisi timur Altar tersebut sudah selesai, maka mulai kemarin sudah bisa dimanfaatkan. “Yang siap baru di sisi timur, karena yang di sisi barat masih ada pengerjaan bidang kebudayaan, revitalisasi bangunan Pekapalan,” kata Asisten Sekprov DIJ Bidang Pembangunan dan Perekonomian Didik Purwadi, kemarin (30/7).
Didik yang ditunjuk sebagai ko-ordinator percepatan penataan Altar ini menambahkan, dalam minggu ini, Pemprov DIJ dan Pem-kot Jogja terus mematangkan kon-sep penataan dan kriteria PKL yang berhak berjualan di sana.”Kriteria tersebut perlu dibuat, karena nantinya total hanya akan tersedia 219 gerobak dan lapak semi permanen yang akan diguna-kan,” tuturnya. Diakui Didik, gerobak maupun lapak yang dibangun tidak bisa memfasilitasi semua PKL, karena itu akan dibuat kriteria PKL yang berhak menempati. Terlebih, di antara 500-an PKL, menurut Peta Altar (Pelaku Ekonomi Alun-alun Utara), sebagian merupakan pe-dagang musiman. “Ya seperti ada gula, ada semut. Saat liburan, akan banyak (PKL) yang buka. Masalah ini nanti kami lihat lagi. Kalau tidak cukup, mana PKL yang memenuhi kriteria, nanti dibicarakan lagi,” jelasnya.
Ada pun mayoritas PKL yang akan ditempatkan, nantinya mer-upakan penjaja kuliner. Untuk itu, dalam pembangunannya, juga sudah memperhatikan kebersihan dan kenyamanan pembeli. Didik mencontohkan, seperti untuk 129 lapak semi permanen, nantinya akan dilengkapi air dan tempat pembuangan limbah. Didik me-mastikan, setelah PKL ditempat-kan di lokasi baru, Pemprov DIJ dan Pemkot Jogja tidak akan me-ninggalkan begitu saja. Sebab juga akan menarik orang supaya datang. Hanya saja, mengenai konsepnya seperti apa, Didik be-lum mau bercerita. “Yang pasti, kita orangkan mereka (PKL), di-tata bukan digusur,” ujarnya.Terkait masih adanya sebagain kelompok yang mengatasnamakan Peta Altar, yang menolak pena-taan Altar, Didik menilai hal itu karena mereka belum paham. Un-tuk itu, Pemkot Jogja juga sudah diminta untuk terus melakukan sosialisasi. (pra/jko/ong)

Pemkot Segera Seleksi PKL

SEMENTARA itu, penolakan PKL dan juru parkir di Alun-Alun Utara yang tergabung di Pelaku Ekonomi Altar (Peta Altar), tak menggoyahkan kebijakan relo-kasi. Pemkot Jogja tetap akan merelokasi PKL, yakni dengan mekanisme seleksi. Pemkot se-bagai pelaksana di lapangan, tetap berpedoman dengan Surat Keputusan Gubernur DIJ. Wali Kota Haryadi Suyuti (HS) mengungkapkan, pihaknya ha-rus mengedepankan harapan sebagian besar masyarakat. Me-reka selama ini meminta pemkot tegas menjaga halaman depan keraton tersebut. “Surat dari Gubernur DIJ sudah jelas, dan itu akan kami jalankan penuh,” tandasnya, kemarin (30/7).
HS mengakui, untuk menga-komodasi seluruh pedagang di kandang macan dan pekapalan memang tak cukup. Tapi, itu bukan menjadi alasan menunda relokasi. Mereka tetap akan di-relokasi dengan menggunakan sistem seleksi.Dari pengakuan Peta Altar, PKL yang ada di Altar mencapai 500-an. Sedangkan jukir yang selama ini mengais rezeki di Altar men-capai 50-an. Padahal, daya tam-pung tempat relokasi hanya 200-an PKL.”Kriterianya kami bahas ber-sama dengan provinsi. Jangan hanya dilihat tempatnya yang kurang, tapi ini betul-betul ter-batas,” tandas HS.Ada pun sejumlah kriteria yang akan dipakai, antara lain meny-angkut legalitas pedagang, jenis dagangan, serta kemanfaatan. Misalnya dalam satu keluarga terdapat lima orang yang men-jalankan perdagangan di kawa-san Altar, maka hanya satu yang bisa diakomodir. (eri/jko/ong)