JOGJA – Pemilik toko waralaba (minimarket) ilegal di Jogokaryan dan Jalan Batikan, Jogja, tampaknya tak akan tersentuh proses hukum. Sebab, meski telah melalui proses hukum di Pengadilan Negeri Jogjakarta, bahkan telah divonis bersalah (kurunagn dan denda), penang-gung jawab toko berjejaring tersebut, bungkam terhadap nama pemilik toko.Dalam persidangan di PN Jogjakarta kema-rin (30/7), di hadapan majelis hakim Surono, penanggung jawab minimarket, Suratijo mengaku tak mengenal sang pemilik. “Saya dimintai tolong teman,” kilahnya.
Begitu pun, saat majelis hakim mengejar identitas sang teman yang disebutnya. Sura-tidjo kembali berkelit. “Ada temannya teman saya, ” kelit warga Gendeng, GK 4/847 RT 77 RW 18 Baciro Gondokusuman ini. Pernyataan Suratidjo ini mengaku hanya sebagai penangung jawab kepengurusan izin dua toko jejaring ilegal tersebut. Keduanya adalah Toko Ceria yang marak berdiri di Kota Jogja akhir-akhir ini. Meski sebagai orang yang bertanggung jawab, Suratidjo kembali tak tahu-menahu soal operasional kedua toko secara ilegal. Bahkan, Suratidjo cenderung tak mengindahkan putusan dari majelis hukum untuk menutup toko tersebut. Artinya toko waralaba tersebut masih tetap operasional.Pada persidang kemarin, hadir sebagai saksi, petugas ketertiban Dinas Ketertiban Kota Jogja Supartono, dan Wiyata Kuswarsa-na. “Harusnya operasional toko ini tutup dulu, baru setelah izin ada, buka lagi,” kata ketua majelis hakim.
Suratidjo didakwa melanggar Perda no 2 tahun 2005 tentang Izin Gangguan atau HO dan Perda terkait Reklame dengan ancaman denda mak-simal Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan.Atas perbuatan terdakwa, majelis hakim men-jatuhkan hukuman denda pada Suratidjo sebe-sar Rp 500 ribu subsider kurungan 15 hari untuk pelanggaran izin HO, dan Rp 300 ribu subsider tujuh hari. Untuk pelanggaran izin reklame, Perda no 2 tahun 2005, denda sebesar Rp 500 ribu subsider kurungan 15 hari, pengganti biaya perkara Rp 1000 (seribu rupiah).Usai sidang, saat ditemui di luar gedung PN, Suratidjo nampak menghindar. “Jangan tanya-tanya, (saya) tidak tahu,” katanya sambil terus menjauh dan berlalu.Kepala Seksi Penyidikan Bidang Penegakan Perundangan-undangan dan Pengembangan Kapasitas Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Jogja Cristiyana Suhantini mengatakan, ada tujuh toko jejaring ilegal yang kini sedang diproses secara hukum. Ketujuh toko ini ada di Pandeyan, Batikan, Rejowingangun, Cen-dana, Jogokaryan, Jalan Kol Sugiyono, dan Patangpuluhan. (eri/jko/ong)