JOGJA – Keberadaan minimarket ber-jejaring ilegal yang ngeyel tetap bero-perasi di Kota Jogja, tak hanya sekali. Tahun 2010 silam, setelah adanya Pe-raturan Wali Kota (Perwal) No 79 tentang Pembatasan Usaha Waralaba terbit, minimarket ilegal menjamur. Saat itu, Pemkot Jogja mengambil langkah tegas. Mereka langsung mem-proses beberapa toko kelontong berje-jaring tersebut. “Ini menjadi tantangan bagi pemkot. Saya kira tidak perlu un-tuk menunggu. Kalau memang melang-gar, langsung tindak tegas,” tandas Ketua Komisi A DPRD Kota Jogja Au-gusnur pekan lalu. Ia menuturkan, bukan sekali pemkot menghadapi masalah keberadaan toko jejaring ilegal. Dari penanganan yang telah dilakukan, Pemkot Jogja akhirnya menutup toko yang dinilai merugikan pedagang kecil kebutuhan sehari-hari itu.”Dari yang ada di Stasiun Tugu sampai Kantor Pos, semuanya happy ending. Kami harapkan juga begitu dengan toko ilegal yang baru berdiri ini,” pintarnya. Pemkot Jogja juga tak tinggal diam. Mereka kini tengah memproses empat toko ilegal. Sedangkan dua toko telah mendapatkan vonis bersalah. Toko ter-sebut pun ditargetkan dalam bulan ini sudah menutup sendiri. Atau, pemkot akan menutup paksa toko-toko tersebut. Selama 30 hari kerja sejak vonis Senin (27/7) lalu, pemilik toko ceria itu wajib untuk menutup sendiri tokonya. “Belum (belum penutupan paksa). Saya masih menunggu surat dari Dintib,” ujar Wa-kil Wali Kota Imam Priyono (31/7).Ia menjelaskan, saat ini pemkot ma-sih memberikan waktu kepada pemi-lik toko itu untuk menutup usahanya sendiri. Jika sudah ditutup, maka tak perlu ada perintah penutupan paksa. “Kalau tidak mengindahkan, ya saya perintah kan,” imbuh politikus dari PDI Perjuangan ini.Pejabat yang akrab disapa dengan IP ini menambahkan, kebijakan pemkot di bidang ekonomi sangat jelas. Pemkot berpihak terhadap ekonomi kerakyatan. Makanya, keberadaan minimarket ber-jejaring dibatasi hanya 52. Ini sesuai Perwal No 79.”Jumlah yang ada sebenarnya sudah cukup. Karena, kalau ditambah, pasti akan mematikan ekonomi kerakyatan yang tumbuh di masyarakat,” terang mantan Direktur Umum (Dirut) PDAM Tirtamarta ini.Toko minimarket berjejaring ilegal di Kota Jogja terus bertambah. Bahkan, informasi dari warga di sekitar Ngasem, akan berdiri toko jejaring baru. Ini tentu saja menambah jumlah enam minimarket ilegal yang sudah ada di Jalan Batikan, Rejowinangun, Jalan Cendana, Patangpuluhan, Jalan Men-teri Supeno, dan Jogokaryan.Dari keenam toko jejaring ilegal itu, dua toko telah mendapatkan putusan dari PN Kota Jogja. Yaitu di Jalan Batikan dan Jogokaryan. Kini Dintib Kota Jogja juga terus mengagendakan pemang-gilan penanggung jawab keempat toko lain. Dintib pun telah memanggil pak-sa penanggung jawab di Patangpuluhan. Kemudian, di Jalan Cendana juga me-reka agendakan untuk pemanggilan paksa. (eri/laz/ong)