SLEMAN – Pelan tapi pasti, harapan Pemkab Sleman men-jadikan Bumi Sembada sebagai salah satu destinasi wisata kese-hatan mulai terwujud. Setidaknya, itu ditandai dengan meningkat-nya fasilitas dan sarana keseha-tan di puskesmas dan muncul-nya rumah sakit baru. Bupati Sri Purnomo (SP) ber-harap, pasien sakit tak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk berobat. “Cukup di Sleman, bisa berwisata sekaligus mengan-tarkan saudara yang butuh pe-rawatan medis,” ungkap SP di sela peresmian Rumah Sakit Hermina Jogja di Maguwoharjo, Depok kemarin (3/7).Semakin banyak pertumbuhan rumah sakit (RS) , lanjut SP, bukan berarti didasari banyaknya pasien. Tapi sebagai jaminan upaya pe-ningkatan layanan kesehatan bagi masyarakat. Menurut SP, wilayah Sleman masih butuh banyak sara-na dan prasarana kesehatan. Itu demi mencakup lebih dari 1,1 juta penduduk asli dan ra-tusan ribu pendatang. Ditambah sekitar 4,5 juta wisatawan yang berkunjung ke Sleman setiap tahun. Karena itu, SP mendorong setiap rumah sakit baru bisa menjadi tempat rujukan bagi pasien. Itu agar pasien bisa ter-layani secara baik. “Kalau me-numpuk di RSUP Sardjito saja, pelayanan bisa penuh,” katanya.
Tak kalah penting, SP memin-ta pihak rumah sakit membuka program layanan Badan Penyel-enggaran Jaminan Sosial (BPJS). Tujuannya, agar pasien dari go-longan menengah ke bawah bisa terlayani di rumah sakit modern dengan fasilitas setara dengan pasien nonsubsidi. “Kan, pemerintah mengimbau semua rakyat masuk BPJS. Sudah seha-rusnya swasta mendukung pro-gram itu,” imbaunya.SP berharap, keberadaan Rumah Sakit Hermina mampu menjadi pelengkap dua rumah sakit mi-lik Pemkab Sleman, yakni RSUD Sleman dan RSUD Prambanan.Direktur RS Hermina Jogja Endang Pudjiastuti berkomitmen memberikan layanan kesehatan untuk semua kelas. Termasuk program BPJS. “Kami layani (pa-sien BPJS),” ujarnya.Dalam mendukung pelayanan, Hermina dilengkapi fasilitas penunjang berupa laboratorium, radiologi, farmasi, dan rehabi-litasi medic. Ada serta klinik tumbuh kembang (KTK) yang terdiri dari fisioterapi, terapi wicara, terapi okupansi, sen-sori integrasi dan snoozelen. Bangunan lima lantai itu di-bagi enam kelas. Mulai suite room, super VIP, CIP, kelas I, II, dan III. “Untuk kelas III tersedia 20 persen dari jum-lah tempat tidur. Didukung pelayanan internsif (ICU/NICU/PICU),” papar Endang. (yog/din/ila/ong)