DEWI SARMUDYAHDARI/RADAR JOGJA
SEGUDANG PRESTASI: Dominique Naura Ilari Namorin saat mengikuti lomba macapat tingkat provinsi beberapa waktu lalu.

Suka Macapat, Mengisi Kompilasi Lagu Anak Nusantara

Lahir di tanah Jawa belum tentu bisa dan fasih berbahasa Jawa, demikian juga sebaliknya. Bagi Dominique Naura Ilari Namorin sebuah anugerah bisa mempelajari dan lancar berbahasa Jawa. Kemampuannya tersebut, dia buktikan dengan menjadi juara 1 macapat tingkat DIJ beberapa waktu silam

DEWI SARMUDYAHSARI, Sleman
AYAHNYA adalah orang Jawa kelahiran Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedangkan sang ibu merupakan asli kelahiran Nusa Tenggara Timur (NTT). Tanpa melihat latar belakang budaya yang berbeda dari ayah dan ibunya, diam-diam Naura memiliki ketertarikan pada budaya Jawa. Tempat dia lahir dan dibesarkan.
Gadis kecil kelahiran Sleman, 8 Agustus 2005 ini tanpa ragu menerima ketika ditawari untuk belajar macapat. Di bawah bimbingan guru macapatnya, Drs Sudarji, putri pertama pasangan Ari Rheno Prakosa dan Maria Fransiska Domal ini tekun berlatih dan mengasah diri. Hingga dia berkesempatan mewakili sekolahnya, SD Model Sleman, untuk mengikuti lomba macapat tingkat provinsi.
Kali pertama mengikuti lomba macapat, Naura tampil sepenuh dengan hati. Alhasil, tembang Kinanthi Mangu Laras Slendro Pathet Sanga dan Gambuh Wewarah Laras Pelog Pathet Barang yang dibawakannya berhasil mencuri perhatian juri.
“Luar biasa, baru pertama kalinya ikut lomba macapat aku bisa raih juara pertama,” ujar gadis manis berlesung pipit ini.
Sekilas, gadis kecil yang kini duduk dibangku kelas 5 SD ini memang tidak njawani. Bahkan, seorang panitia mengungkapkan rasa penasarannya. Saat itu, Naura berhasil lolos dan masuk final lomba baca tingkat Sleman. “Bapak itu penasaran, kok aku bisa nembang padahal tidak kelihatan seperti orang Jawa,” ujarnya mengingat kejadian menarik itu.
Penyuka masakan udang goreng dan sop kaki kambing ini sejak kecil memang dilatih untuk mengasah bakat. Hobi menyanyinya sampai sekarang terus diasah dan ditekuni. Bakat menyanyi muncul ketika masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Berbagai ajang olah bakat pun diikuti. Tak heran, sederet prestasi dia raih. Namun disayangkan, dia tidak lagi bisa mengikuti lomba macapat ditingkat provinsi yang diadakan Dinas Kebudayaan.
“Meski nggak bisa ikut lomba lagi apa boleh buat. Untungnya masih ada geguritan, sesorah atau dongeng Bahasa Jawa yang bisa aku dalami,” ujarnya.
Semangatnya untuk mencintai budaya Jawa yang adiluhung juga diharapkan bisa ditiru teman-temannya. Dengan begitu, dia bisa ikut melestarikan budaya. Prestasi pada tahun 2015 ini juga membawa Naura mewakili Kabupaten Sleman maju ke tingkat Provinsi DIJ untuk Lomba Bercerita yang diadakan Perpustakaan Daerah dan lomba menyanyi FLSSN.
Kini, gadis yang terpilih sebagai artis cilik untuk album Kompilasi Lagu Anak Nusantara ini lebih fokus ke olah vokal untuk mengembangkan bakat dan hobinya. Naura juga kerap mengisi acara di bulan Ramadan, Natal dan Tahun Baru.
Kini Naura siap mengemban tugas selama dua tahun ke depan karena terpilih sebagai Diajeng Cilik Berbakat Sleman 2015 yang diadakan Ikatan Dimas Diajeng Sleman dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.
“Aku berterima kasih kepada guru macapatku, bapak ibu guru juga teman-teman. Terutama mama dan papa yang selalu mendukung,” ujar Naura. (ila/ong)