Diawali dari yang Sederhana

SEKOLAH bukan cuma tempat belajar formal, tapi selayaknya juga menjadi ‘taman’ dengan suasana penuh tantangan, tapi menyenangkan dan menyuburkan tumbuhnya budi pekerti luhur. Tahun ajaran 2015/2016 ini cukup istimewa, karena Kemendikbud mencanangkan gerakan Penumbuhan Budi Pekerti melalui serangkaian kegiatan non kurikuler. Yaitu rangkaian kegiatan harian dan periodik untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai dan karakter positif yang akan dilaksanakan di sekolah. Asiiik dong…
Menumbuhkan budi pekerti, sebenarnya sudah lama digaungkan pihak sekolah ke para siswa. Namun aplikasi di lapangannya masih enggak konsisten. Apollinaris Primeracrisa dari SMAN 4 Jogja berharap usulan penumbuhan Budi Pekerti yang telah dicanangkan langsung oleh Kemendikbud dapat terlaksana baik. Sebagai wakil pelajar, sebenernya kegalauan akan pendidikan budi pekerti udah lama banget dirasakan. ‘’Kegelisahan soal tawuran, tatakrama dan semacamnya itu agar mendapat pencerahan,” harap Apollinaris.
Penumbuhan budi pekerti nantinya akan focus diterapkan melalui jalur nonkurikuler. Karena jalur ini biasanya kurang mendapat perhatian. Padahal efeknya cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Rosita Vitria Wijaya teman dari SMAN 5 Jogja berpendapat. “Bisa melalui kegiatan-kegiatan sederhana, tapi kaya makna, seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya saat mengawali kegiatan sekolah, dan menyanyikan satu lagu wajib saat mengakhiri kegiatan sekolah. Seakan kita diajak menumbuhkan jiwa nasionalisme dengan cara yang sederhana. Lama-kelamaan akan menumbuhkan budaya cinta Indonesia dengan sendirinya,” katanya.
Penumbuhan budi pekerti diagendakan melalui beberapa tahapan, yakni diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadi karakter, kemudian menjadi budaya. “Setuju sekali dengan dicetuskannya penumbuhan budi pekerti buat anak Indonesia. Aku berharap semoga gerakan penumbuhan Budi Pekerti benar-benar melibatkan semua pihak. Bukan hanya guru, siswa, namun juga didukung orangtua di rumah,” jelas Prita Dewi dari SMAN 11 Jogja.
Untuk mewujudkan aktivitas menjadi sebuah budaya, memang butuh proses, bukan sekadar slogan. Artinya, proses penumbuhan budi pekerti juga perlu diterapkan melalui tahapan. “Satu hal yang paling disorot adalah kebiasaan membaca buku untuk pelajar. Kebiasaan membaca buku sebelum pelajaran, semoga bisa menumbuhkan budaya baca pelajar. Termasuk aku yang jarang baca buku, agar pengetahuan umumku makin bertambah,” pungkas Nabella Salsa siswa SMAN 1 Banguntapan Bantul. (rin/man/ong)