Setiaky/Radar Jogja
DISITA: Petugas dari Kejaksaan Agung memasang pita pengaman sebagai bentuk penyegelan dan penyitaan terhadap mobil listrik hibah Pertamina di UGM, kemarin.
JOGJA – Mobil listrik hibah dari PT Pertamina (Persero) kepada UGM disita oleh tim dari Kejaksaan Agung, kemarin pagi (4/8). Tim kejaksaan berjumlah tiga orang itu langsung memberikan pita tanda penyegelan pada bodi mobil dipimpin Ketua Tim Penyidikan Satuan Khusus Pemberantasan Korupsi Kejaksaan Agung Victor Antonius.
Proses penyegelan mobil berwarna putih itu berdasarkan surat perintah penyitaan No 37/F.2/Fd.1/06/2015 tanggal 12 Juni 2015, Nomor: Print-43/F.2/Fd.1/06/2015 tanggal 12 Juni 2015 atas nama tersangka Ir Dasep Ahmadi dkk.
Kepada wartawan, Antonius mengatakan mobil listrik itu sejatinya akan digunakan dalam APEC tahun 2013 di Bali. “Penyitaan karena mobil yang semestinya untuk acara APEC tidak dapat diguanakan dan akhirnya dihibahkan oleh BUMN. Mobil kita sita untuk kepentingan penyidikan kasusnya sebagai barang bukti,” terangnya.
Sementara itu Kepala Humas UGM Wijayanti mengatakan, mobil listrik yang diterima UGM sejak diterima pada akhir 2014 belum pernah digunakan. Menurutnya, hal itu karena dokumen serah terima hibah mobil listrik belum diterima UGM. “Proses administrasinya belum selesai. Saat penyerahan mobil, dokumen ditandangani terus dibawa ke Jakarta dan belum kembali lagi ke kami,” katanya kepada wartawan di UGM, kemarin.
Karena prosesnya belum selesai itu pihak UGM belum menggunakan mobil listrik tersebut, yang sedianya akan digunakan untuk penelitian dan pembelajaran mahasiswa. “Kita sekarang posisinya dititipi saja. Dari kejaksaan belum bisa menjelaskan kapan bisa diambil. Pada prinsipnya kami mendukung kelancaran proses hokum,” tandasnya.
Setelah mobil listrik di UGM disita, Antonius mengatakan total pihaknya telah menyita 10 dari 16 unit mobil listrik yang dipesan untuk penyelenggaraan APEC, Oktober 2013. “Kami menyita yang masih ada di pabrik. Lima milik PGN, empat milik BRI dan yang ini hibah dari Pertamina,” katanya.
Ke-10 unit mobil yang disita terdiri atas 7 mikrobus dan satu kendaraan eksekutif di pabrik mobil listrik Pondok Rajek, Cibinong, Kabupaten Bogor. Kemudian satu unit kendaraan eksekutif di pabrik Kampung Sawah, Cilodong, Depok dan satu unit APV yang ada di UGM.
PGN dan BRI, lanjutnya, masing-masing memesan empat mikrobus dan satu executive car. Sedangkan Pertamina memesan enam executive car yang saat ini sudah disumbangkan ke enam universitas, yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Universitas Brawijaya, Universitas Riau, dan Universitas Gadjah Mada.
Pembuatan 16 mobil listrik ini, kata Antonius, diduga merugikan negara sebesar Rp 32 miliar. Sebab, mobil listrik yang dibuat tidak sesuai dengan spesifikasi dan harganya dinilai terlalu mahal. (riz/laz/ong)