Hendri Utomo/Radar Jogja
LIBURAN CERDAS: Remaja asal Eropa saat melakukan kegiatan di WRC Jogja di Dusun Paingan, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo.

Buat Permainan untuk Satwa Liar hingga Membatik

Peduli terhadap hewan langka yang dilindungi itu hebat. Ikut memperhatikan dan menjaga populasi satwa liar itu juga sebuah langkah luar biasa. Dengan cara itu, kita mendapat pengakuan sebagai manuisa yang bisa menghargai mahluk hidup lainnya. Hal ini yang tersimak dari sekumpulan remaja asing bersama volunteer program Wildlife Rescue Center Jogja, di Dusun Paingan, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo.
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
JAUH-JAUH datang ke Indonesia mereka menyamakan satu alasan, peduli dengan satwa dan alam Indonesia. Gayung bersambut, Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja dengan cakap mampu mewadahi mereka sebagai volunteer. Tidak hanya mendekat, mereka juga ikut merawat, bahkan membuatkan permainan bagi satwa penghuni WRC.
Para remaja dari Eropa ini sengaja berkumpul di Jogjakarta, dan mengarah Kulonprogo sebagai jujukan utama, lantaran pusat konservasi satwa liar milik Pemprov DIJ itu berada di Kulonprogo. Nilai positif lain yang pantas ditiru, mereka bisa mendapat liburan hebat dengan cara menyisihkan uang jajan setahun. Mereka nampak menikmati cara berburu pengalaman menjadi volunteer konservasi satwa liar di Kulonprogo.
Liburan mereka memiliki program, di mana program utamanya, antara lain, pengetahuan umum satwa-satwa eksotis Indonesia. Setelah puas membaca referensi di buku, mereka datang langsung ke habitatnya. Tentu tidak canggung saat berinteraksi dengan satwa, karena mereka memang sudah mantap untuk berkegiatan seperti itu.
Mereka membersihkan kandang, memperbaiki fasilitas yang rusak, dan membuatkan permainan bagi satwa penghuni WRC. Mereka secara detail juga mengamati catatan perilaku satwa secara periodik. Tidak behenti di situ, mereka juga mendalami pengelolaan pertanian organik yang nantinya dijadikan pakan bagi satwa yang tengah direhabilitasi.
Kepala Divisi Pengelolaan Satwa WRC Jogja Wisman mengungkapkan, sebagai lembaga nonprofit, tanpa dukungan dana dari pemerintah untuk perawatan tentu sangat berat. Maka untuk merawat satwa milik negara ini harus mencari pendanaan sendiri.
“Nah program-program seperti inilah yang mau atau tidak mau diakui mendanai keberlangsungan WRC Jogja. Mereka datang dengan tujuan membantu satwa di sini. Mereka volunteer berdonasi dengan bendera Global Exploration. Dana dari mereka untuk biaya operasional perawatan satwa, mulai dari medis, pakan, perawatan kandang, dan keberlangsungan satwa hingga siap dilepas ke alam liar,” ungkapnya.
Dijelaskan Wisman, WRC Jogja berada dibawah Yayasan Konservasi Alam Jogjakarta yang berdiri sejak tahun 2010. WRC Jogja mampu bertahan dan terus merehabilitasi satwa hingga merelease-nya kembali ke habitat aslinya. “Satwa di sini bermacam-macam, diselamatkan dari orang yang memeliharanya. Tujuan akhirnya ya melepas dan mengembalikan mereka ke habitat aslinya,” ujarnya.
Woutir Piir, remaja asal Belanda mengungkapkan, apa yang ia jumpai di WRC merupakan pengalaman yang mengasyikkan dan sangat berharga. Semua bisa menjadi pelajaran bagaimana memperlakukan dan menghargai hewan.
“Suatu saat saya ingin kembali ke sini mengajak teman lainnya. Saya akan katakan kepada mereka, ada pengalaman menarik di sini. Bisa bertemu orang hutan, buaya yang tengah direhabilitasi, sebelum kembali ke habitat aslinya,” katanya.
Melengkapi liburan, mereka juga mendapat pengalaman menarik yakni belajar membatik, yang hasilnya bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Mereka juga berkesempatan mengunjungi sejumlah tempat wisata di DIJ dan Jawa Tengah. Mereka datang ke Keraton Jogja, Tamansari, Malioboro. Para remaja bule itu ingin mengulangi pengalaman tersebut bersama keluarganya kelak. (laz/ong)