HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
PRODUKSI PADI: Petani saat mempersiapkan lahan untuk menanam padi di wilayah Panjatan saat musim penghujan beberapa waktu lalu.
KULONPROGO – Pemkab Kulonprogo berencana mencetak sawah baru di lahan marginal seluas 450 hektare. Upaya itu dilakukan untuk antisipasi penyusutan lahan yang mengakibatkan produksi padi menurun.”Survei investigasi desain (SID) sudah selesai disusun, kami akan melaksanakan cetak sawah baru secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah,” terang Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertan) Kulonprogo Bambang Tri Budi Harsono.Bambang mengatakan, pada tahun ini, cetak sawah baru seluas enam hek-tare direncanakan di daerah Paingan, Sendangsari, Pengasih. Namun masih terkendala dalam membersihkan lahan karena membutuhkan alat berat.”Sementara kami belum meng-anggarkan biaya sewa alat berat. Se-hingga, cetak sawah baru di Pengasih mengalami keterlambatan,” katanya.
Menurut Bambang, sawah baru juga membutuhkan dukungan irigasi yang baik supaya sawah tidak kekurangan air. Sementara cetak sawah di Paingan, baru ada dua pipa enam inci untuk menyangga Sungai Serang sepanjang 60 meter. “Cetak sawah baru di Paingan, Pengasih sebetulnya digadang bisa mencapai 26 hektare. Namun pengairan yang belum memadai membuat luasan itu belum bisa dimaksimalkan,” ujarnya.
Bambang menambahkan, anggaran yang dibutuhkan setiap mencetak sawah baru seluas satu hektare mencapai Rp 15 juta. Ada beberapa titik kawasan yang cocok untuk cetak sawah baru, antara lain di wilayah Kecamatan Pengasih, Sentolo dan sebagian di Nanggulan.Kecamatan Pengasih yakni di Bendung Tawang Pengasih mencapai 266,43 hektare, di kawasan Margosari 6,58 hektare dan Sendangsari 30,63 hektare. Kawasan Bendung Tawang merupakan pengembangan irigasi Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) tahun 2004.Kecamatan Sentolo meliputi kawasan Kaliagung seluas 30,25 hektare, Sentolo 14 hektare, dan Banguncipto 13,79 hektare. Sedangkan di Kecamantan Nanggulan meliputi Kawasan Dono-mulyo seluas 64,69 hektare.”Cetak sawah baru di Kulonprogo membutuhkan anggaran lebih dari Rp 6,75 miliar. Sangat membutuhkan bantuan anggaran dari pemerintah pusat dan Pemprov DIJ,” ungkapnya.
Wakil Ketua DPRD Kulonprogo Ponimin Budi Hartono menyatakan, cetak sawah baru cukup relevan dalam mengantisipasi penyusutan lahan sawah. Itu seiring dengan rencana pengembangan Kota Wates dan mega-proyek pembangunan lainnya.”Diperkirakan lahan sawah di Kulon-progo terjadi penyusutan 350 hektare hingga tahun 2020. Hal ini perlu diantisipasi sejak dini yakni dengan mencetak sawah baru,” tandasnya.Ponimin menegaskan, leading sector atau satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang menangani yakni dinas pertanian dan kehutanan. Juga dinas kelautan, perikanan, dan peternakan (dinkepenak) serta bidang pengairan dinas pekerjaan umum.”Semua harus mulai menyusun lang-kah strategis untuk mencetak sawah baru dan membangun infrastruktur saluran irigasi. Pemkab Kulonprogo juga harus menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) DIJ terkait kebutuhan irigasinya,” tegas-nya. (tom/ila/ong)