DWI AGUS/Radar Jogja
DI BALIK KELAMBU: Dalam pameran ini dihadirkan beragam bentuk tempat tidur. Mulai tempat tidur gaya Jawa, Madura, China, hingga era Belanda pada masa lalu.

JOGJA – Sejarah mencatat Indonesia memiliki keragaman budaya masa lalu. Salah satu yang terus terjaga hingga saat ini adalah tempat tidur. Meski sederhana, desain tempat tidur dari masa ke masa memiliki keidentikan masing-masing.
Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pun mencoba menghadirkan potret ini melalui pameran karya seni bertajuk Di Balik Kelambu. Tempat tidur yang biasanya digunakan menjadi tempat istirahat, diubah menjadi karya seni.
“Tempat tidur juga menjadi penanda peradaban budaya pada waktu itu. Dalam pameran ini kita hadirkan beragam bentuk tempat tidur. Mulai dari tempat tidur gaya Jawa, Madura, China, hingga era Belanda pada masa lalu,” ungkap Gabriel Possenti Sindhunata (3/8).
Menurut pria yang akrab disapa Romo Sindhu ini, pemilihan objek ini membuktikan bahwa seni itu luas. Objek biasa yang awalnya hal biasa, bisa menjadi benda seni. Termasuk menggugah jiwa seni, imajinasi dan kreatif para seniman.
Dalam tempat tidur bisa terjadi berbagai peristiwa. Mulai dari peristiwa, baik maupun buruk dalam dinamika kehidupan manusia. Hal ini pula yang digambarkan oleh para seniman melalui karya-karya seni penunjang lainnya.
“Di balik kelambu bisa terjadi kisah cinta yang romantis atau perselingkuhan. Dari sini kita juga tahu bahwa tidur adalah bagian penting dari manusia. Sepertiga dari hidup kita untuk tidur, tujuannya agar sehat dan terjadi daur ulang energi,” ungkapnya.
Beberapa tempat tidur kuno ini merupakan milik pribadi Subik dan Edi Sunaryo. Seluruhnya merupakan koleksi pribadi yang dikemas menjadi karya seni. Kultur tentang tempat tidur beragam adat istiadat masyarakat dan trend pada waktu itu terekam melalui pameran ini.
Edi Sunaryo, kolektor asal Sidoarum, Godean, Sleman, menyajikan beberapa koleksinya. Menurutnya, pameran ini tergolong kreatif dan inovatif. Ini karena pemilihan objek seni yang awalnya dianggap tidak memiliki nilai seni.
“Mengangkat benda yang awalnya tidak memiliki nilai seni. Tapi saat ini diolah dan disajikan, sehingga memiliki nilai seni. Nilai lebihnya kita bisa melihat budaya pada waktu itu melalui tempat tidur ini,” ungkapnya.
Pameran yang berlangsung hingga 11 Agustus ini menghadirkan tempat tidur dalam berbagai bentuk. Namun karena keterbatasan tempat, tidak seluruh bagian dipasang. Sehingga bagian-bagian identik saja yang dipamerkan.
Hadir pula karya lukis dan patung para perupa. Karya ini merupakan respons akan tema pameran Di Balik Kelambu. Para perupa bebas menafsirkan dalam karyanya, bahkan bisa juga menggambarkan tentang mimpi sekalipun.
“Para perupa ini merespons hingga menjadi karya seni sesuai imajinasi mereka. Berbicara tentang kesedihan, kegembiraan, romansa atau hal-hal lainnya, karena dari tempat tidur bisa lahir beribu ide dan gagasan untuk berkarya,” kata Romo Sindhu.
Perupa yang berpartisipasi dalam pameran ini meliputi AC Andre Tanama, Bambang Pramudyanto, Dyan Anggraini, Erica Hestu Wahyuni. Hermanu, Melodia, Ong Hari Wahyu, Purwanto, Sekar Jatiningrum, Seno Andrianto, Sigit Santosa, dan Susilo Budi Purwanto. (dwi/laz/ong)