DWI AGUS/Radar Jogja
TEATER REMAJA: Penampilan SMA Bina Muda Cicalengka, Jawa Barat, dalam hari pertama Festival Teater Remaja Nusantara 2015 di ISI Jogja.
BANTUL – Pesatnya perkembangan dunia teater remaja, menggugah Jurusan Teater ISI Jogjakarta menggelar Festival Teater Remaja Nusantara 2015. Kegiatan ini melibatkan 28 kontingen dari 12 provinsi di Indonesia. Seluruhnya adalah kelompok teater pelajar setingkat SMA.
Rektor ISI Jogjakarta Agus Burhan diwakili Pembantu Rektor III Anusapati mengungkapkan dukungannya. Festival teater ini dapat menjadi pemicu. Mampu menjaring sekaligus meregenerasi penerus dunia teater Indonesia.
“Bidang teater memilki potensi besar yang perlu dikembangkan. Menjadi wahana pengembangan karakter diri para remaja agar unggul dan kompetitif. Pengalaman ini bisa menjadi tongkat estafet penerus generasi teater ke depannya,” kata Anusapati di Gedung Concert Hall ISI Jogja (6/8).
Festiival teater ini resmi dimulai Jumat (7/8) hingga 16 Agustus mendatang. Seluruh kontingen membawakan lakonnya sendiri dan dipentaskan di Auditorium Jurusan Teater ISI Jogjakarta. Ketua Jurusan Teater Joanes Catur Wibono menilai minat para kontingen tinggi.
Tema Garuda Remaja diharapkan mampu mengangkat potensi teater setiap daerah. Apalagi masing-masing kontingen memiliki ciri khasnya sendiri. Sehingga dapat menjadi warna bagi keberagaman festival teater remaja nusantara ini.
“Selain Jogjakarta dan dari Pulau Jawa juga diikuti kontingen dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali. Memasuki tahun kedua, festival ini telah berkembang yang awalnya hanya skala regional telah menjangkau nasional. Minat peserta pun luar biasa dan melibatkan 28 kontingen dari 12 provinsi,” ungkapnya.
Hari pertama (7/8) dibuka penampilan dari SMA Bina Muda Cicalengka, Jawa Barat. Selanjutnya SMAN 1 Kalisat Jember dan ditutup oleh tuan rumah SMAN 2 Jogja. Setiap kontingen membawakan naskah cerita garapan masing-masing.
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Yudi Aryani berpesan agar setiap kontingen tampil secara kompetitif. Terutama membawakan peran secara total dan mampu menghidupkan setiap karakternya. Pertemuan antarkontingen ini juga dapat menjadi ajang edukasi bagi penggiat teater remaja.
“Mereka bertemu dan ini merupakan skala nasional. Bagaimana mereka melihat satu sama lain, sehingga lahir jiwa kompetisi. Tapi kompetisi yang melahirkan proses kreatif dan rasa bangga,” pesannya. (dwi/laz/ong)