Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengeluarkan aturan penggunaan pesawat udara tanpa awak (drone). Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 90 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak ini terbit pada tanggal 12 Mei 2015 lalu. Lantas bagaimana tanggapan para pengguna drone?
DALAM aturan itu, drone yang digunakan untuk kepentingan pemotretan, film, dan pemetaan harus melampirkan surat izin dari institusi yang berwenang. Juga izin pemerintah daerah yang wilayahnya akan dipotret, di-filmkan, atau dipetakan. Padahal saat ini, banyak peng-guna individu yang meng gunakan drone sebagai salah satu aktivitas yang berkaitan dengan pe-motretan dan pembuatan film. Selain itu, banyak juga peng-guna drone yang hanya sekadar menyalurkan hobi saja.Terbitnya Permenhub Nomor 90 Tahun 2015 ini ditanggapi beragam. Ada yang menerima adapula yang terkejut karena peraturan ini seakan kurang sosialiasasi. Salah satunya ada-lah Bagoes Kresnawan yang aktif menggunakan pesawat tanpa awak atau drone.Pria kelahiran Jogjakarta, 12 September 1987 ini mengetahui adanya Permenhub Nomor 90 tahun 2015 tapi belum secara detail terutama zona-zona ter-larang bagi drone.”Penting adanya sosialisasi tentang Permenhub itu bagi para pengguna drone. Karena saat ini penggunanya tidak hanya terikat instansi, justru di dominasi pengguna individu dan tidak semua pengguna drone tahu Permenhub ini,” kata Bagoes.
Setelah membaca aturan itu, dia mengaku tidak keberatan dengan poin-poin dalam Permenhub ini. Justru dengan adanya peraturan ini dapat mengatur penggunaan drone. Sebab, menurutnya, jika tidak diatur justru membahayakan.Dalam aturan tersebut, ter dapat tiga area yang dilarang untuk penerbangan drone. Pertama adalah ruang udara terlarang (prohibited area), yaitu kawasan udara yang dibatasi secara per-manen dan me-nyeluruh bagi semua pesawat.Kedua, dro-ne dilarang terbang di kawasan udara ter-batas (restric-ted area). Yaitu ruang udara yang dibatasi secara tidak tetap dan hanya dioperasikan untuk penerbangan negara dan komersial.Ketiga, di kawasan keselamatan operasi penerbangan suatu bandara atau yang diatur oleh Air Traffic Control (ATC).”Untuk di area bandara dan lain sebagainya emang kita tak pernah nerbangin. Justru biasanya kita ambilnya di area alam, jarang di perkotaan. Itupun untuk ke-perluan film bukan pementaan wilayah,” ungkapnya.
Bagoes sendiri tergabung dalam Euforia Audio Visual. Dia ter-gabung bersama Erix Soekamti dan aktif memproduksi beragam film dan klip. Penggunaan drone miliknya masih tergolong aman karena tinggi penerbangan tidak melebihi 150 meter.Ini sesuai instruksi dalam Per-menhub agar penggunaan drone tidak melebihi ketinggian 150 meter. Selain untuk ke amanan drone sendiri, kebutuhan gambar tidak membutuhkan ketinggian hingga 150 meter. Terlebih untuk pembuatan film dan klip-klip lainnya.”Kalau drone terbang makin tinggi malah semakin tidak terlihat. Susah untuk mengendalikannya, untuk kebutuhan gambar juga tidak bagus,” ungkapnya.Bagoes aktif menggunakan drone sejak tahun 2012. Dia bertindak sebagai produser Euforia Audio Visual. Drone yang digunakan berjenis DJI PHAN-TOM VISION 2 plus. Beragam produksi klip mayoritas menggunakan drone. Salah satunya saat produksi klip web seriesnya Soekamti 7th. Klip-klip ini diambil di alam terbuka sehingga mem butuhkan drone agar terlihat landscape-nya. (dwi/ila/ong)