Prospek Bagus, Jangan Rusak karena Ceroboh

DRONE seolah memunculkan feno-mena tersendiri di dunia audio visual. Bagi pegiat aeromodelling, alat canggih yang satu ini sudah cukup familiar. Karena salah satu jenisnya, yakni fix wing, sudah banyak dikenal dan dimainkan. Namun, jenis multirotor, baru 2014 lalu mulai mencuat di berbagai kota.Adalah Kuncara Aji Kusuma, salah satu anggota Komunitas Multirotor Jogja yang sejak itu juga mulai melirik jenis perangkat canggih yang satu ini. Dia menjelaskan, awalnya menjadi pemain aeromodelling, kemudian ber-kembang ke multirotor. “Karena ternyata beda, tahun 2014 yang suka multirotor bikin komunitas lagi,” ujar salah satu penggagas Komu-nitas Multirotor Jogja, kemarin.
Komunitas yang kini memayungi 25 anggotanya ini terus menggeliat. Me-reka rutin kumpul, terbang bareng, hingga hunting gambar di tempat bagus. Saat berkumpul mereka isi dengan sharing, membahas perkembangan drone multirotor, isu-isu terkini hing-ga soal job.Menurut Kuncara, memiliki drone bukan lagi sekadar untuk menyalurkan hobi. Disamping itu juga ada peluang bisnis yang bisa digarap. Kecanggihan multirotor, tidak hanya bisa digunakan untuk foto video tapi juga pemetaan. Misalnya, pemetaan vegetasi atau untuk mengetahui pengembangan lahan. Karena itulah, komunitas ini juga sudah mengerti aturan terbang drone, termasuk jenis multirotor. Bahkan sebelum ada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 90 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak.
Komunitas ini sudah memiliki ketentuan untuk terbang, yakni 200 meter dari permukaan tanah ketinggian terbang yang bisa dicapai drone. Terbang tidak boleh dari ketentuan itu, kalau ingin mencapai ketinggian yang lebih harus izin dulu. Selain itu, terbang juga tidak boleh sejajar landasan bandara di radius lima kilometer.”Misalnya di Malioboro, kita sudah tahu pesawat terbang berada di rata-rata ketinggian 400 meter ke atas, untuk menerbangkan drone masih aman di ketinggian 150 meter,” paparnya.
Menurutnya, teman-teman pemain drone yang sering “bermasalah” justru dari luar Jogja. Atau teman-teman foto video yang mulai menggunakan drone untuk kebutuhannya. Karena seringkali mereka belum mengenal medan dan belum tahu kawasan- kawasan yang aman atau tidak diluar masalah teknis.Dia menjelaskan, yang masuk kategori drone adalah perangkat yang bersifat autonomous atau full outopilot (tanpa awak). Maka drone dilengkapi dengan kamera infrared, GPS dan sistem komputer yang terkoneksi dengan pusat kendalinya.Ada dua jenis drone yang dikenal, yakni fix wing (berbentuk seperti pesawat) dan multirotor. Jenis multirotor sendiri ada berbagai macam, antara lain helicam, tricopter, quadcopter, heksacopter dan oktacopter. Harganya beragam, mulai dari puluhan hingga ratusan juta. (dya/ila/ong)