ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
PANTAI LAYANG-LAYANG : Salah satu jenis layang-layang yang ikut diterbangkan dalam festival laying-layang di Pantai Parangkusumo kemarin (9/8).
 
KRETEK – Pantai Parangkusumo kembali ditunjuk sebagai lokasi penyelenggaraan festival layang-layang 2015. Kencangnya tiupan angin di pantai yang terletak di Kecamatan Kretek ini sebagai alasannya.
“Seperti hari ini anginnya kencang sekali,” terang Kirun selaku panitia festival layang-layang 2015 di sela-sela festival, kemarin (9/8).
Dibanding pantai lainnya di pulau Jawa, tiupan angin di Pantai Parangkusumo dapat disebut paling kencang. Kelebihan pantai ini bahkan sudah diketahui para penghobi layang-layang di seantero nusantara.
Menurut Kirun, para penghobi layang-layang biasanya akan mendesain layang-layang mereka dengan standar lebih jika mengikuti festival di Pantai Parangkusumo. “Kerangka harus kuat dan tali goci-nya pun juga didesain berbeda agar bisa mengalirkan tekanan angin,” paparnya.
Menurut Kirun, tidak sedikit para penghobi layang-layang yang memanfaatkan fiber sebagai kerangkanya. Ini untuk mengantisipasi retaknya kerangka layang-layang ketika diterbangkan dengan kondisi tiupan angin kencang. Adapun tali goci yang berfungsi sebagai kendali layang-layang didesain agak ke atas. Tujuannya agar badan layang-layang tak ‘berbenturan’ langsung dengan tiupan angin.
Tali goci dengan model seperti ini seolah berfungsi sebagai aerodynamic. Sebab, tali goci mampu mengalirkan tiupan angin karena posisi layang-layang menjadi terbang dengan bagian atas lebih ke bawah.”Makanya Parangkusumo dicanangkan sebagai pantai layang-layang,” tandasnya.
Namun demikian, ada beberapa kelas yang masih memanfaatkan bambu sebagai kerangka layang-layang. Kirun menyatakan Festival layang-layang 2015 diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dengan Pelangi Jogja. Ada 30 tim dari DIJ dan sekitarnya yang ambil bagian pada festival kali ini. “Dengan jumlah layang-layang sekitar 80,” sebutnya.
Menurutnya, ke-30 tim ini mengikuti beberapa kelas yang dipertandingkan. Antara lain, train naga, tradisional, dua dimensi dan tiga dimensi. Penyelenggaraan festival ini bertujuan melestarikan budaya layang-layang sekaligus mempromosikan Pantai Parangkusumo.
Sugianto, salah satu peserta festival layang-layang mengatakan sudah berulang kali berpartisipasi festival layang-layang di Pantai Parangkusumo. Dia merasa menemukan kepuasan ketika menerbangkan layang-layang di Pantai Parangkusumo.”Surganya layang-layang ya di sini,” ucapnya.
Pria asal Tulungagung, Jawa Timur ini menilai, tiupan angin di Pantai Parangkusumo berbeda dengan di Pantai Pangandaran maupun pantai di Surabaya. Tiupan angin di Pantai Parangkusumo jauh lebih bertenaga.
Itu sebabnya, Sugianto memilih membawa layang-layang train naga dengan kerangka fiber untuk mengikuti festival ini.
“Kalau bambu pecah. Wong mau nurunin layang-layang saja sulit karena anginnya,” tambahnya.
Dia menambahkan, butuh waktu sekitar dua minggu membuat layang-layang train naga dengan panjang 125 meter. Total biaya yang dibutuhkan Rp 3 juta.(zam/din/ong)