SLEMAN- Kepercayaan masyarakat kepada calon incumbent atau petahana kepala desa mulai terkikis. Terbukti, sebagian petahana tak mampu mempertahankan kekuasaannya setelah dikalahkan pesaingnya dalam bursa pemilihan kepala desa (pilkades) 2015 yang digelar serentak kemarin (9/8). Bahkan, seli-sih suara dengan jawara baru cukup telak.
Seperti di Desa Bokoharjo, Prambanan. Incumbent Suharyono tumbang setelah hanya mampu meraup 2.189 suara. Dia kalah telak dari Dody Heriyanto yang mem-peroleh suara terbanyak, 2.368 suara. Bahkan, perolehan suara Suharyono jauh dibanding peraih suara terbanyak dua, Yusa Tri Indra Putra, yang hanya selisih sepuluh dengan calon pemenang
Demikian pula di Condong-catur, Depok. Sebagai peta-hana, perolehan suara Marsu-di justru kalah telak dari pe-saingnya, Reno Candra Sangaji. Marsudi memperoleh 7.333 suara. Sedangkan Reno, yang notabene mantan bawahan Marsudi di Pemdes Condong-catur membukukan 9.946 suara.Kendati begitu, kepercayaan rakyat kepada incumbent ma-sih kuat di beberapa desa lain. Seperti, Tridadi, Sleman. Kabul Muji Basuki masih berkesem-patan memimpin wilayah yang berda di pusat pemerintahan Pemkab Sleman itu satu periode lagi setelah mendapatkan 3.034 suara. Lurah dua periode itu mengalahkan Maryono, calon kuat lain dengn selisih 233 suara.
Beberapa incumbent lain ber-hasil memenangi pilkades, di antaranya Imam Suhadi (Lum-bungrejo, Tempel), Amad Jala-ludin (Margorejo, Tempel), Sismantara (Candibinangun, Pakem), dan Imindi Kasmiyan-ta (Maguwoharjo, Depok). Di luar dugaan, mantan Kades Sinduadi, Mlati yang pindah alamat ke Sendangadi untuk mencalonkan kembali sebagai lurah mampu mengungguli petahana Budiatmodjo. Da-manhuri memang tak bisa mencalonkan lagi sebagai ka-des Sinduadi lantaran telah tiga periode memimpin wilayah tersebut.
Anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Sleman Hempri Suyatna menilai, in-cumbent yang kalah lantaran dianggap tak lagi bisa mewa-kili kepentingan masyarakat. Apalagi, dalam konteks Un-dang-Undang Desa diperlukan kades yang visioner. “Bukan sekadar kades. Tapi visi misi-nya jelas. Sebagian orang tentu akan berfikir sampai ke situ,” ungkapnya.Kendati begitu, Hempri me-nengarai pilkades diwarnai politik uang yang cukup ting-gi. Khususnya di wilayah dengan calon sedikit. Di sisi lain, tingkat kesadaran ber-demokrasi masih rendah lan-taran angka golput (abstain/tidak memilih) masih tinggi. (yog/din/ong)