SETIAKY/RADAR JOGJA
DISAMBUT TANGISAN: Jenazah M. Firza Ardiansyah Ramadhan saat tiba di rumah duka, Demangan, Baru, Depok, kemarin.

Polisi Antar Pelaku Temui Pacar di Bali

JOGJA – Setelah tak sadarkan diri karena dihantam cangkul di Jalan Timoho Jumat malam (7/8), korban M. Firza Ardiansyah Ramadhan, 20, warga Demangan Baru, Catur Tunggal, Depok, Sleman, kemarin pukul 14.10 meninggal dunia (10/8). Korban sem-pat dirawat tiga hari di RS Bethesda Jogja.
Menurut kakek korban Sukamto, jenazah Rirza akan dikebumikan di pemakaman umum Dusun Salakan, Potorono, Bangun-tapan, Bantul, hari ini (11/8), tempat asal ayahnya. Cucu politikus PKB dan anggota DPRD DIJ ini mengalami luka parah di bagian kepala serta luka sobek dan memar di bagian wajah
Pelaku penganiayaan dengan cangkul ini, setelah beberapa hari buron akhirnya berhasil dibekuk. Pelaku diketahui ber-nama Yah Anis Lukas Nehemi-ah Bari, 25. Mahasiswa sebuah PTS di Jogja ini ditangkap polisi di Kabupaten Banyuwangi, Minggu (9/8) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.Kapolresta Jogjakarta Kombes Pol Pri Hartono EL melalui Kasat Reskrim Kompol Heru Muslimin menyebutkan, dari pengakuan tersangka kepada pihak kepolisian, pelaku melakukan tindakan bru-tal itu diduga merupakan bentuk sakit hati setelah pelaku ketakutan dan marah diteriaki warga.
Sebelumnya, tersangka dan beberapa temannya minum-minuman keras di dalam area kampus. Mereka menenggak dua botol minuman keras Jumat malam sekitar pukul 21.00. Sejam kemudian, pelaku pamit kepada teman-temannya untuk mem-beli rokok. Masih dalam penga-ruh alkohol, tersangka keluar kampus menggunakan motor Satria FU AB 6006 ML.Saat berada di jalan Timoho itu tersangka kemudian meng-geber-geberkan gas sepeda mo-tornya dengan suara keras. Warga yang tidak jauh dari lokasi merasa terganggu dan mencoba mengingatkan tersangka.
Kesal dengan teriakan warga dan kalah jumlah, pelaku lantas meninggalkan sepeda motornya di pinggir jalan dan masuk ke dalam kampus. Melihat ada cangkul milik pekerja proyek yang sedang mengerjakan taman, tersangka kemudian mengam-bilnya dan dibawa ke jalan. “Dia sempat mengejar-ngejar para pekerja proyek dan warga dengan mengayunkan cangkul yang dibawanya,” kata Heru.
Saat tersangka mengamuk di Jalan Timoho itulah, korban Firza Ardiansyah Ramadhan melintas bersama seorang temannya dengan mengendarai sepeda motor. Korban kemudian ter-kena hantaman cangkul di kepala bagian belakang.”Korban tidak tahu apa-apa. Dia hanya lewat biasa, justru kena cangkul. Setelah tahu korban ter-kapar, pelaku kabur berlari ke selatan menuju kampus, cangkul dan motor ditinggal,” urainya.
Korban yang jatuh dengan luka benda keras itu kemudian dibawa oleh warga ke RS Be-thesda untuk menjalani pera-watan. Sementara setelah keja-dian, tersangka kabur dengan masuk ke dalam kampus dan melarikan diri lewat pintu ba-gian belakang. “Dia lalu nyetop bis ke Janti tujuan Surabaya menuju Bali untuk menemui pacarnya,” ungkapnya.
Setelah mengetahui infor masi keberadaan pelaku, petugas Satreskrim Polresta Jogjakarta kemudian berkoordinasi dengan Polsek Pelabuhan dan Polres Banyuwangi. Tersangka ber hasil ditangkap di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, setelah pihak Pol-resta Jogjakarta berkoordinasi dengan Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3) Tanjungwangi Ketapang dan mengirim tim untuk melakukan pengejaran. Hingga kemarin tersangka ma-sih dalam perjalanan menuju Jogja. “Ditangkap saat menung-gu akan menyeberang ke Bali di Cape 3 Tanjungwangi, Ketapang,” ungkapnya.
Saat ditangkap di Banyuwangi, kata Heru, polisi tetap mengan-tarkan pelaku menemui pacar-nya di Bali. “Jadi dari Bali per-jalanan ke Jogja, belum tahu kapan sampai. Mungkin dini hari nanti karena harus lewat penyebrangan di pelabuhan juga,” jelasnya. Petugas sementara ini menga-mankan barang bukti berupa kendaraan pelaku dan cangkul yang digunakan untuk menga-niaya korban.
Selanjutnya, pelaku akan dijerat dengan Pasal 351 KUHP tentang pengani ayaan dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun. Baru Lulus SMA, Bukan Anak Neko-Neko”Ma, orang meninggal kan tidak harus tua,” kata M. Firza Ardi-ansyah Ramadhan, 20, kepada ibunya beberapa hari sebelum peristiwa penganiayaan yang menimpanya.
Kalimat itu yang masih di-ingat kakek korban, Sukamto. Hal itulah yang menurutnya bisa jadi adalah firasat sebelum kepergian korban. “Sebelumnya dia tidak pernah bilang seperti itu,” ujarnya ke-pada wartawan di Jalan Perkutut 1 No 3 Demangan Baru RT 002/RW 001 Catur Tunggal, Depok, Sleman, tempat tinggal Firza.
Sukamto mengimbau ke-pada aparat kepolisian untuk memproses kasus ini sesuai hukum yang berlaku. “Jangan sampai mengenal kelompok mana-mana. Hukum harus ditegakkan,” kata wakil rakyat di DPRD DIJ ini.
Di mata keluarganya, Firza dikenal anak yang sopan. Me-skipun anak tunggal, dia tidak pernah neko-neko. “Dia anak satu-satunya, ini menjadikan duka yang mendalam bagi ke-luarga. Apalagi, Firza baru saja lulus SMA,” terangnya.Pemakaman Firza akan dilaksanakan hari ini di Ban-tul. Karena kakeknya sudah membuatkan rumah di tempat itu. “Kami mohon doanya, dia belum menikah masih bujangan. Anak yang biasa-biasa saja. Saya merasa sangat kehilangan,” pungkas Sukamto. (riz/kus/laz/ong)