GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
MANGKRAK: Deretan bus Trans Jogja di Terminal Giwangan, kemarin (12/8).
JOGJA – Sebanyak 20 unit bus bekas Transjogja yang sempat menjadi temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), akan dilakukan dilelang oleh Pemkot Jogja. Bus-bus yang mangkrak sekitar 1,5 tahun di Terminal Giwangan itu kini sudah dalam pro-ses penghitungan
Direncanakan lelang terbuka dilakukan tahun depan.Kepala Dinas Bangunan, Ge-dung, dan Aset Daerah (DBGAD) Kota Jogja Hari Setyawacono mengatakan, tahun depan pi-haknya mulai melelang bus hi-bah dari Kementerian Perhu-bungan (Kemenhub) itu. “Tahun ini akan dilakukan penghitung-an ulang. Kemudian dihapus (dilelang) untuk tahun depan,” katanya kemarin (12/8). Keberanian melakukan lelang itu menyusul adanya lampu hi-jau dari Kemenhub untuk meng-hapus keberadaan 20 unit bus itu. “Nantinya lelang 20 bus akan dilakukan secara terbuka. Sama seperti lelang aset yang selama ini dilakukan Pemkot Jogja. Sia-pa pun boleh ikut,” tandas Hari.
Karena akan dilelang terbuka, maka PT Jogja Tugu Trans (JTT) selaku pengelola operasional bus Transjogja, nantinya juga bisa ikut lelang. Jika saja ikut lelang, tentu saja bisa menambah armada operasional dari ar-mada yang sudah ada sekarang.PT JTT yang saat ini hanya me-miliki 74 bus. Mereka bisa me-nambah aset bergeraknya seba-nyak 20 bus. Pihak pemkot juga memberikan sinyal itu, asalkan mengikuti lelang dan membe-rikan penawaran yang bagus.
Seperti diketahui, sejak pinjam pakai untuk Pemprov DIJ ke-mudian dipinjamkan untuk operasional Transjogja, 20 unit bus itu menjadi temuan BPK. Selanjutnya keberadaan 20 bus Transjogja itu mangkrak di Ter-minal Giwangan. Bus-bus itu harus mangkrak karena saat itu Pemkot Jogja juga tidak bisa memaksimalkan pemanfaatannya. Rencana awal saat itu, pemkot akan menjadi-kannya sebagai bus sekolah, namun mendapatkan larangan dari Kemenhub. Dalam perjalanannya, Kemen-hub memerintahkan untuk penghapusan. Sehingga, saat ini pemkot tinggal menghitung ulang, kemudian melelang, tanpa harus mendapatkan per-setujuan dari Kemenhub lagi. “Itu karena bus sudah dihibah-kan menjadi milik sepenuhnya pemkot,” jelas Hari.
Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Cristiana Agustina mendu-kung rencana penghapusan aset itu. Sebab, biaya perawatan bus juga cukup mahal. Sedangkan, jika ditunda-tunda akan mem-buat nilai barang menurun. “Le-bih cepat, lebih baik,” ujar poli-tikus dari Partai Gerindra ini. Ana, sapaan akrabnya, mene-rangkan, kalau sudah menda-patkan lampu hijau, pemkot harus segera mempercepat peng-hapusan bus Transjogja. Meka-nisme, perhitungan ulang juga bisa dianggarkan di APBD Pe-rubahan tahun ini. “Sudah lebih dari 1,5 tahun bus itu tidak jalan, sehingga jangan sampai semakin lama nilainya juga makin rendah,” lanjutnya. (eri/laz/ong)