(Tanpa Kekerasan dan Penuh Kemanusiaan)

Oleh: Hasto Wardoyo

POLITIK tanpa prinsip adalah nista dan sia-sia, karena cenderung akan menghancurkan nilai-nilai kehidupan. Prinsip dasar harus berupa kebenaran atau nilai-nilai ketuhanan yang ideal dan selalu mewarnai dalam setiap mengambil keputusan. Juga merencanakan kegiatan pengabdian dan pelayanan masyarakat.
Mereka yang mengaku sebagai pekerja politik, dan pengurus partai, sayap partai, fraksi politik di legislatif dan pejabat politik (bupati,wali kota, gubernur dan presiden), harus menyadari sebagai hamba yang rela hati menempatkan diri menjadi pelayan setia bagi kehidupan orang lain.
Nilai kebenaran ideal selalu dekat dengan keikhlasan, kejujuran, cinta kasih sayang kepada sesama (kemanusiaan), jauh dari kekerasan dan kebencian. Partai politik yang terbiasa dengan kekerasan, menghalalkan segala cara dalam “perebutan” kekuasaan harus merenung sejenak, merefleksi diri dan kembali menjadi partai yang ideologis.
Tugas-tugas perjuangan politis-ideologis harus selalu dilakukan guna membasmi setiap perilaku yang hanya mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok. Serta mengabaikan kebenaran, keadilan dan kepentingan umum.
Perlawanan politik bisa dilakukan tanpa kekerasan dan penuh dengan nilai kemanusiaan. Banyak filosofi, budaya dan nilai-nilai relegius spiritual yang bisa dipakai sebagai acuan dalam menumbuhkan prinsip-prinsip melawan tanpa kekerasan.
Ajaran tentang akhlakul karimah mengajak kepada kita semua untuk berakhlak yang terpuji dengan selalu berbaik kepada sesama. Mampu berbuat baik kepada mereka yang belum baik atau berani “membalas air tuba dengan air susu” adalah contoh perbuatan yang sangat terpuji.
Akhlak mulia akan menghancurkan permusuhan, kebencian dan kekerasan, sehingga bisa menyelesaiakan berbagai konflik permasalahan. Suro diro joyo ningrat lebur dining pangastuti (seperti apapun kuatnya lawan bisa dihancurkan dengan kebaikan), merupakan filosofi Jawa yang mengandung makna anjuran melawan kekerasan dengan kebaikan.
Filosofi ini juga sering dihubungkan dengan huruf Jawa yang mati ketika dipangku (ditinggikan). Orang Jawa konon ketika dipangku (diangkat, disanjung, dibaiki) maka akan “mati” (kalah, mengalah, tidak berdaya, tidak sampai hati).
Menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, ngluruk tanpo bolo (menang dengan tidak merendahkan lawan, kaya tanpa harta dan menyerang tanpa bala tentara). Filosofi Jawa ini juga mengajak kepada kita untuk melawan tanpa kekerasan, dan rasa hormat yang tinggi kepada lawan.
Juga tidak mengedepankan materi karena kita bisa kaya tanpa bergelimang harta, dan bisa melawan musuh tanpa harus dengan mengerahkan bala tentara. Sayang generasi muda kita jarang yang mau menghayati prinsip-prinsip mulia ini, bahkan sebagian ada yang meledek dan melecehkan dengan guyonan-nya: nek aku sing penting jajan tanpo bayar (makan di warung tanpa bayar).
Memang kita harus sabar mengarahkan anak-anak remaja sekarang agar masih bisa melestarikan nilai-nilai luhur bangsa di tengah kehidupan masyarakat. Filosofi lain juga tidak kalah populer Keno iwake ora butek banyune (berhasil mengambil ikannya tanpa keruh airnya). Para sesepuh dengan guyonan dan sindiran segarnya mengatakan:”Orang yang hanya cerdas dan terampil bisa mengambil ikan dengan cepat dan banyak tetapi airnya keruh, masih kalah dengan orang bijak yang bisa mengambil ikannya tanpa keruh airnya. Tetapi orang bijak masih kalah degan orang arif yang konon hanya dengan senyum dan lirikan mata, ikannya sudah datang sendiri.”
Orang bijak bisa memahami perbedaan dan persamaan tentang nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan norma kemanusiaan. Mereka cenderung banyak mengerti dan tidak banyak minta dimengerti. Orang arif lebih dari itu karena mampu memusatkan diri kepada kesucian, dan mampu secara terus menerus mempertahankan sinar kebenaran Illahi di dalam dirinya.
Semua prinsip di atas mengajarkan bahwa kekerasan bisa dihadapi dengan kelembutan, keluhuran budi dan kesantunan. Karena menghadapi kekerasan dengan kekerasan hanya akan melahirkan kebencian dan permusuhan baru.
Di era pilkada serentak ini Teh Celup berharap para kandidat, tim sukses dan politisi bisa lebih bijak dan arif. Karena kemenangan bisa diraih tanpa harus meninggalkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Semua pihak harus santun dan berhati-hati dalam bertutur kata, diam jika tidak bisa bertutur yang baik, tidak menyakiti dan selalu memuliakan lawannya.***