AHMAD RIYADI/Radar Jogja
SPESIAL: Sudarmono, salah seorang siswa peraih beasiswa bidik misi UGM 2015 saat diantar ayahnya (Wagiman) dengan naik becak ke kampus pusat UGM, kemarin (13/8).

Siswa Lain Piknik Liburan Kelulusan, Pilih Kelilingi Kampus

Banyak jalan menuju kesuksesan. Namun, untuk meraih sebuah kesuksesan butuh upaya keras dan perjuangan. Itu lah yang dialami Sudarmono, alumni SMA 1 Bayat, Klaten, Jawa Tengah yang lolos sebagai penerima beasiswa bidik misi UGM 2015.
AHMAD RIYADI, Jogja
SUASANA halaman gedung pusat UGM tampak sedikit berbeda, kemarin. Biasanya kendaraan umum seperti becak dan taksi dilarang memasuki sekitar halaman gedung rektorat tersebut, kecuali pegawai kantor setempat. Namun, khusus Kamis (13/8) kemarin, petugas keamanan UGM memberikan keleluasaan bagi Wagiman untuk membawa becaknya masuk ke dalam area kampus.
Kedatangan Wagiman bukan hendak menjemput penumpang. Tetapi, penarik becak asal Klaten ini dipersilakan mengantarkan penumpang yang dibawanya sampai ke halaman kompleks rektorat UGM. Penumpang yang dibawanya tak lain adalah putranya sedniri, bernama Sudarmono, peraih beasiswa bidik misi UGM 2015.
“Monggo pak, silakan ikut naik ke atas mengikuti acara,” sambut Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. Senawi sambil memberikan senyuman dan menggandeng Wagiman.
Sudarmono merupakan satu di antara puluhan penerima beasiswa bidik misi UGM 2015. Dia diterima di Fakultas Peternakan UGM melalui jalur SNMPTN. Alumni SMA 1 Bayat, Klaten ini merasa terharu sekaligus senang dinyatakan lolos seleksi beasiswa bidik misi.
Menurutnya, beasiswa yang diraihnya penuh tantangan, sekaligus hambatan. Sejak masih duduk di bangku SMA, dirinya jarang ikut refreshing/liburan bersama-sama teman-temannya. Ia lebih sibuk belajar demi mendapatkan beasiswa.
“Waktu pengumuman kelulusan, saya tidak ikut liburan. Saya memilih berburu beasiswa dari kampus ke kampus,” kata Sudarmono mengisahkan perjuangannya untuk mendapatkan beasiswa.
Baginya, belajar tidak ada akhirnya. Usai dinyatakan lulus SMA, anak pasangan suami istri Wagiman-Mursiyem ini tetap belajar. Sejak duduk di bangku SD, Sudarmono memang sudah menunjukkan prestasinya.
Ia selalu mendapatkan rangking di sekolahnya. Bahkan, ia pernah mendapatkan juara pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang fisika dan kimia. Kemudia mendapatkan juara pada lomba cerdas cermat dan lomba pidato.
Untuk melatih jiwa kepemimpinan, Sudarmano ikut bergabung di OSIS maupun kerohanian Islam sekolah (Rohis). “Demi ingin kuliah di UGM, sejak SMA saya sibuk belajar dan berorganisasi,” kisahnya.
Keinginan Sudarmono untuk bisa kuliah dengan beasiswa sangat kuat. Maklum, penghasilannya orang tuanya yang berprofesi sebagai penarik becak yang mangkal di Jalan Suryopranoto, Gunungketur, Pakualaman hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, Sudarmono sesekali bekerja serabutan dan merawat hewan ternak di rumahnya Mranggen, Dukuh, Bayat, Klaten. “Saya tidak ingin menyusahkan orang tua. Karena itu, saya bertekad harus mendapatkan beasiswa. Alhamdulillah doa dan usaha saya dikabulkan,” jelasnya bangga.
Tahun ini, kuota penerima Bidik Misi di UGM mencapai 820 mahasiswa. Kuota ini sebenarnya masih kurang, bila melihat jumlah mahasiswa yang orangtuanya berpenghasilan di bawah Rp 1 juta masih cukup banyak hingga 809 orang.
“UGM akan berusaha memperjuangkan agar kuotanya bisa bertambah. Kalaupun tidak, kami berusaha carikan dari donatur atau sumber-sumber lainnya,” kata Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. Senawi.
Para penerima beasiswa akan mengikuti Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) PALAPA 2015 pada 18-23 Agustus nanti.(jko/ong)