DWI AGUS/Radar Jogja

Kebanyakan Bergelar Doktor, Diajari Lebih Cepat Bisa

Gamelan tidak hanya menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Nama gamelan juga bergaung hingga Amerika Serikat. Bahkan sekelompok orang asal negeri Paman Sam ini mendirikan grup gamelan Jawa bernama Sari Raras. Kelihaian para penggawa grup ini terlihat selama kunjungan di Jogjakarta sepekan ini.
DWI AGUS, Jogja
Rabu malam (12/8) halaman kantor Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ terlihat ramai. Bunyi gamelan pun membuat para pejalan kaki di kawasan Malioboro membelokkan langkah kaki mereka. Raut muka kagum dan tak percaya pun terlihat dari para pengunjung.
Malam itu, Dispar DIJ mengadakan pertunjukan wayang kulit. Keistimewaan dari pementasan membuat semua pejalan kaki menyempatkan melihat pertunjukan ini. Alasannya, para penabuh gamelan bukanlah warga Jogjakarta, melainkan puluhan bule yang berasal dari Amerika Serikat.
“Saya kagum, soalnya yang main gamelan itu bule semua. Belum pernah melihat, apalagi permainan mereka rapi dan kuat mengiringi pementasan wayang kulit,” ungkap salah seorang pengunjung Malioboro asal Bogor, Sarah Pradipta (22).
Usut punya usut, para pemain gamelan ini tergabung dalam kelompok Sari Raras. Kelompok ini berasal dari Universitas Berkeley, California, Amerika Serikat. Bahkan kelompok Sari Raras tergolong sepuh, karena berdiri sejak tahun 1988.
Kunjungan Sari Raras ke Jogjakarta sendiri merupakan rangkaian tour ke Indonesia. Sang penggagas tour Peter Garellick mengungkapkan, di Universitas Berkeley California memang ada kelas khusus untuk gamelan. Minat dari penabuh pun tidak sedikit, terbukti banyaknya alumni yang lahir dari kelompok ini.
“Khusus untuk kunjungan kali ini melibatkan alumni-alumni Berkeley. Mereka memang sangat suka bermain musik Jawa, terutama gamelan. Bahkan beberapa alumni tetap aktif tergabung dalam Sari Raras hingga saat ini,” ujar bule yang fasih berbahas Indonesia ini.
Gamelan sudah berada di Universitas Berkeley California sejak tahun 1972. Pada waktu itu sudah ada seperangkat gamelan, namun belum bisa menggunakannya. Alasannya, belum ada tenaga pengajar yang paham menggunakan gamelan.
Perlahan tapi pasti, mereka pun belajar dari tutorial gamelan Jawa. Hingga akhirnya sosok dalang Ki Midiyanto dipercaya untuk mengajarkan gamelan. Ki Midiyanto sendiri sudah mengajar gamelan di Universitas Berkeley California selama 15 tahun.
Pengalaman selama mengajar, Ki Midiyanto menemukan hal yang unik. Di mana ketertarikan warga Amerika Serikat terhadap budaya Indonesia sangat tinggi. Ini bisa dilihat dari minat dan antusiasme selama mempelajari gending-gending budaya Jawa.
“Selama saya mengajar, mereka lebih sportif dan serius dari bangsa kita. Saya tidak ingin berkata seperti ini, tapi faktanya memang demikian. Mereka tertarik dan benar-benar serius mau mempelajari kesenian kita ini,” ungkapnya.
Pengalaman lain adalah saat mengajarkan beragam gending. Respons dan cara belajar siswa asing, menurutnya, lebih cepat. Mungkin karena para siswanya sebagian besar memiliki gelar doktor. Sebagai perbandingan, jika mengajar siswa Indonesia hingga dua hari, sedangkan siswa asing hanya dua jam.
Tapi secara keseluruhan, patokan ini tidak bisa dijadikan acuan. Tentunya dengan melihat sejauh mana semangat untuk memainkan dan melestarikan salah satu kesenian tradisi Jawa ini. Justru hal ini patut dijadikan penyemangat bangsa sendiri untuk mendalami gamelan secara serius.
“Latar belakangnya dahulu di mana mereka terlatih untuk disiplin. Juga telah terlatih untuk memecahkan sesuatu dengan cepat. Seperti malam ini merupakan uji nyali buat mereka, karena mengiringi pertunjukan wayang kulit,” katanya.
Dalam pentas wayang mengambil lakon Hanoman Duta ini, Universitas Berkeley California melibatkan 27 orang. Selain tampil di halaman Dispar DIJ, mereka juga tampil di Pendopo SMKI Jogjakarta, Jumat malam (14/8). Di tempat ini, para penggawa Sari Raras juga mengiringi lakon yang sama.
Selain bermain gamelan, para siswa ini juga pandai menyinden. Ini terlihat dari tiga siswa, Maegan O’Donahue, Jessika Kenney dan Susan Walton yang fasih menyanyikan gending Jawa. Uniknya, dalam mendalang Ki Midiyanto menyelipkan bahasa Inggris dalam lakon ini.
Tentunya ini menarik perhatian tidak hanya pengunjung domestik. Beberapa wisatawan asing juga terlihat menikmati pertunjukan ini. Bahkan beberapa di antaranya rela duduk lesehan di aspal untuk melihat dan mendengarkan kesenian tradisi ini.
“Sempat membayangkan apakah pemain betah duduk berjam-jam tanpa istirahat. Tapi yang bikin saya jadi terkejut dan heran justru penonton. Penonton bertahan hingga pertunjukan usai tepat tengah malam. Mungkin mereka bukan tertarik karena pertunjukannya, tetapi mereka tertarik dengan siapa yang memainkannya,” ungkap Midiyanto.
Nama Sari Raras sendiri memiliki makna dan konsep yang jelas. Sari dalam kosakata ini memiliki makna esensi, sedangkan raras berarti melodi yang enak. Sehingga secara garis besar memiliki makna memainkan melodi yang enak didengar untuk menghaluskan rasa.
“Oleh karena itu, gendingnya pun saya kasih yang halus-halus supaya kita bisa promosi bahwa bagi orang Jawa, gamelan bisa menghaluskan jiwa,” tambahnya.
Sari Raras sendiri dikenal sebagai kelompok gamelan Jawa terkemuka di luar Indonesia. Didirikan tahun 1988 oleh Midiyanto bersama Kepala Departemen Musik Universitas Berkeley California Amerika Serikat Ben Brinner. Walaupun berafiliasi dengan Berkeley, anggotanya tidak terbatas dari kalangan akademis, tapi juga komunitas setempat.
Para anggota kebanyakan sudah bergabung cukup lama, seperti Ashley Morris, pemain kenong, yang sudah delapan tahun bermain untuk Sari Raras. Peter berharap kesenian tradisi Jawa ini tetap bertahan di masa mendatang. Tentu dengan peran aktif generasi muda bangsa Indonesia.
“Saya hanya bisa bilang beragam kesenian tradisi di Indonesia semoga tidak hilang. Generasi muda semoga tidak lupa meski beberapa tidak interest terhadap budaya asli Indonesia, khususnya budaya Jawa,” katanya.
Ketika generasi muda tidak suka, lanjutnya, semuanya bisa hilang. “Yang muda wajib apresiasi terhadap budayanya sendiri. Kita tampil karena sangat mencintai dan menghargai budaya tradisi Jawa ini,” pesan Ashley Morris. (laz/ong)