DIPNA VIDELIA/RADAR JOGJA
BANYAK PENGALAMAN: Dari kiri Buwana Marhenta, Mahadewa Putra, Leo Agung Bayu, dan Maria Eugenia Sekar. Mereka baru pulang dari mewakili DIJ ke World Scout Jamboree Mondial 2015 di Jepang.

Kunjungan ke Hiroshima Jadi Pengalaman Paling Bermakna

“Seorang Pramuka sejati harus bisa bekerja sama dengan sesamanya untuk membuat sesuatu bisa terjadi.” Pernyataan Bapak Pramuka Dunia Robert Baden-Powell itu yang dijadikan inspirasi empat remaja ini: Maria Eugenia Sekar, Leo Agung Bayu, Buwana Marhenta, dan Mahadewa Putra. Berkat keaktifannya dalam kegiatan Pramuka, mereka mewakili DIJ dalam Jambore Internasional di Jepang, 28 Juli-8 Agustus lalu.
DIPNA VIDELIA, Jogja
WORLD Scout Jamboree Mondial 2015 Japan adalah jambore internasional ke-23 yang diadakan di Yamaguchi, Jepang. Maria Eugenia Sekar mengaku banyak pengalaman dan pelajaran yang ia dapatkan selama mengikuti jambore tersebut. “Kami belajar menghargai sesama, belajar bekerja sama, mencintai alam, dan juga belajar berorganisasi,” kata perempuan yang akrab disapa Sekar ini.Keempat Pramuka ini mengatakan me-reka tak pernah menyangka akan mewa-kili Indonesia dalam perhelatan interna-sional. Dikisahkan Leo Agung Bayu, awal-nya mereka diajak oleh kakak pembina dari sekolah mereka masing-masing. Leo yang menempuh pendidikan di SMP Pa-ngudi Luhur bersama Sekar ini pun turut mengajak teman-temannya mendaftar
“Tapi, banyak yang tidak mau, mungkin karena persyaratannya, ada juga yang berhalangan,” katanya.Menurut Leo, syaratnya memang cukup banyak, yang terpenting adalah ada surat rekomendasi dari Kwarcab, Kwarda, dan se kolah tempat mereka masing-masing. Selain itu, ada batasan umur, yaitu 14-17 tahun. Buwana me-nambahkan, mereka terpilih bukan karena seleksi, tapi karena tidak ada yang mendaftar.”Kuota dari setiap provinsi empat orang, dari DIJ yang mendaftar cuma kami berempat, ya sudah kami yang berangkat,” kata Buwana.
Menurutnya, ke-terlambatan informasi menjadi alasan sedikitnya pendaftar. “Info yang di Jogjakarta telat, sudah mepet-mepet waktu terakhir pengumpulan persyaratan, kami baru diberi tahu,” lanjutnya.Ada 105 negara yang mengikuti jambore itu. Dari Indonesia sen-diri ada sekitar 300 orang. Selama 10 hari di Jepang, mereka me-ngatakan banyak sekali pengala-man yang didapat. Di sana, me-reka dikelompokkan sesuai ne-gara, kemudian setiap negara dibagi dalam beberapa regu yang terdiri atas sembilan orang. Setiap regu harus mengikuti beberapa kegiatan yang dibagi dalam dela-pan kategori, yaitu water activity, culture, science, nature, faith and believe, global development village, community, dan peace.Bagi Sekar, kegiatan yang paling berkesan adalah peace.
Dalam kegiatan itu, mereka mengunjungi Hiroshima, kota yang dulu hancur terkena bom atom. Di sana, Sekar dan regunya mengibarkan bende-ra Merah Putih. “Kami sengaja membawa bendera Merah Putih, karena menurut kami peristiwa Hiroshima berperan untuk ke-merdekaan Indonesia,” kata Sekar.Untuk masalah biaya, mereka mengatakan, semua biaya sudah ditanggung, kecuali uang saku. “Transportasi, makan, semua sudah ditanggung. Sebelum be-rangkat pun kami sudah menda-pat penyuluhan dari Kwarnas, di sana kami diberi fasilitas seperti carrier (tas ransel), kaos, dan sou-venir yang nanti akan kami tukar dengan negara lain,” kata Sekar.
Mereka sepakat, jambore internasional ini harus lebih disosialisasikan di Indonesia, terutama DIJ. Alasannya, me-nurut Leo, sangat disayangkan kalau anak-anak Pramuka DIJ melewatkan jambore ini, karena keuntungannya banyak.”Setiap hari aktivitas kami ber-beda. Pengalamannya pun ber-beda. Tapi semua bernilai, semua memberi kami ilmu baru, jadi sayang kalau tidak ikut kegiatan ini. Di sana kami tidak dituntut apa-apa, kami have fun tapi tetap belajar,” kata Leo.Mereka berharap, sosialisasi pendaftaran jambore interna-sional dilakukan lebih dini, supaya lebih banyak yang mendaftar. Kalau perlu seleksi pun bagi me-reka tidak masalah. “Syarat utamanya, yang penting aktif dan punya kemauan. Sayang kalau dilewatkan, pengalamannya tak ternilai,” kata Sekar. (laz/ong)