KUSNO S UTOMO/Radar Jogja
BATAL BERTEMU: GBPH Hadisuryo dengan latar belakang foto Sultan HB IX.
JOGJAOntran-ontran atau kemelut yang melanda Keraton Jogja belum juga ada titik terang penyelesaian. Ini menyusul upaya pertemuan antara Sultan Hamengku Bawono Ka 10 (HB 10) dengan para saudaranya putra-putri Sultan Hamengku Buwono IX kembali gagal terlaksana.
Semula acara dihelat di Gedong Kuning atau biasa dikenal dengan sebutan Gedong Jene Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pukul 11.00, Sabtu (15/8) lalu. Namun agenda tersebut urung berlangsung karena HB 10 mengajukan lima syarat. Di antaranya, HB 10 meminta 15 saudaranya yang ingin bertemu dengan dirinya, dan telah meneken surat pada 7 Juli 2015 harus hadir semua. Bila ada satu atau dua yang tak datang, maka pertemuan tak akan direalisasikan. Adapun 15 saudara HB 10 itu terdiri atas tiga orang kakak perempuan, 11 adik laki-laki, dan seorang adik perempuan.
Kudu rawuh kabeh genep sing tapak astan, yen ono siji loro ora iso rawuh BATAL (harus hadir semua sesuai yang tanda tangan, bila ada satu dua tak bisa datang, maka batal),” tulis HB 10 dalam surat berbahasa Jawa tertanggal 12 Agustus 2015 itu.
Kata batal, dalam surat di angka lima tersebut ditulis dengan huruf kapital. Selain meminta 15 saudaranya harus hadir semua, HB 10 juga mewanti-wanti isi pembicaraan tidak boleh bocor atau diketahui wartawan dan orang lain, karena itu menjadi tata cara di keraton. Tidak boleh ada orang lain yang diizinkan campur tangan, kecuali yang mendapatkan perintah.
Ora kepareng nggowo pawongan kulak warto lan wong liyane sing ora perlu (tidak diperkenankan membawa wartawan dan orang lain yang dianggap tak perlu),” pinta HB 10.
Salah satu rayi dalem (adik sultan) Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Hadisuryo membenarkan adanya rencana pertemuan dengan itu namun akhirnya batal. “Pertemuan Dewan Saudara putra-putri HB IX dengan HB 10 tak jadi dilaksanakan,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya Ndalem Hadinegaran, Bintaran, Jogja, kemarin (17/8).
Gusti Hadisuryo, demikian sapaan akrabnya, mengatakan menghormati sikap kakaknya tersebut. Ia juga tak ingin menyalahkan sikap Sultan yang menginginkan 15 saudaranya semua harus datang di Gedong Jene. “Itu hak beliau membuat aturan tersebut,” katanya.
Namun demikian, Gusti Hadisuryo mengingatkan, syarat yang diajukan tersebut sulit dipenuhi. Alasannya, pada hari itu ada beberapa saudaranya yang berhalangan datang. Misalnya salah satu kakak perempuannya GBRAy Darmokusumo harus menunggui suaminya yang tengah sakit. Sedangkan dua adiknya yang di Jakarta yakni GBPH Pakuningrat berada di Manado, Sulawesi Utara, dan GBPH Suryomataram sedang mengikuti manasik haji. Sedangkan GBPH Prabukusumo sedang menghadiri acara di Jakarta.
“Kalau permintaannya seperti itu susah bisa bertemu,” katanya. Gusti Hadisuryo awalnya ingin kalau anggota Dewan Saudara tak semuanya bisa hadir, maka cukup diwakili. Setiap garwa dalem atau istri HB IX yang berjumlah empat orang, masing-masing diwakili dua anak.
Pangeran yang lahir dari garwa dalem pertama HB IX, KRAy Pintokopurnomo ini mengaku sejak awal meyakini wangsit atau dawuh yang diterima kakaknya sebagaimana tercermin di sabdaraja 30 April 2015 dan dawuhraja 5 Mei 2015 sebetulnya tidak ada. Sabdaraja berisi pergantian nama Hamengku Buwono X menjadi Hamengku Bawono 10, dan dawuhraja berupa perintah pengangkatan GKR Pembayun sebagai GKR Mangkubumi.
“Dari kacamata saya semua itu tidak lebih dari upaya memaksakan kehendak. Ada tekanan yang cukup tinggi, sehingga beliau seperti itu. Kami mengimbau agar beliau legawa, dan kembali pada nama dan gelar seperti semula,” ucap suami Andini Dewi ini.
Kendati pertemuan batal, ia ingin jalinan silaturahmi di antara semua keturunan HB IX harus dijaga. Dinasi Hamengku Buwono harus tetap dipertahankan. Dengan demikian, raja atau sultan yang bertakhta harus tetap laki-laki. “Itu prinsip,” tegasnya.
Di bagian lain, saat ditanya soal pemberian gelar GKR Mangkubumi bagi Pembayun, ayah enam anak ini mengaku punya pengalaman khusus terkait nama tersebut. Kala itu dia bersama kakak kandungnya, GBPH Hadikusumo, sempat memprotes ke ayahnya HB IX karena mewisuda BRM Herjuno Darpito menjadi KGPH Mangkubumi.
Menurut dia, dari garis darah, kakaknya, GBPH Hadikusumo (almarhum), yang lebih berhak. Sebab ayah dan ibu mereka, HB IX dan KRAy Pintokopurnomo, sama-sama keturunan Pangeran Mangkubumi, putra HB VI, atau adik HB VII.
Mendengar protes itu, HB IX menjelaskan, nama Mangkubumi punya arti mendalam. Bila diberikan pada orang yang baik maka orang tersebut akan baik. Sebaliknya bila berwatak buruk akan menjadi jahat.
“Setelah mendengar penjelasan itu saya dan kakak saya bisa memahaminya,” ungkapnya, di sela persiapan peringatan setahun meninggalnya cucu pertamanya RM Tangguh yang dimakamkan di Pakuncen, kemarin. (kus/laz/ong)