DWI AGUS/Radar Jogja

Sadar Tak Sempurna, Masa Kecil Pilih Belajar

Dari ribuan mahasiswa baru yang diterima UGM Jogjakarta saat ini (2015), ada sosok anak cacat fisik atau tunadaksa bernama Eki Waskita Aji. Pria berumur 19 tahun ini, diterima di UGM tanpa melalui tes.
DWI AGUS, Sleman
SEMANGAT tinggi menempuh pendidikan terlihat dalam diri Eki Waskita Aji. Alumnus SMA Muhammadiyah 7 Jogjakarta ini resmi menjadi mahasiswa Fakultas Hukum UGM Jogjakarta. Pria berumur 19 tahun ini diterima di UGM tanpa melalui tes.
Anak tunadaksa, pada dasarnya sama dengan anak normal lainnya, hanya dari aspek psikologi sosial mereka membutuhkan rasa aman dalam bermobilisasi dalam kehidupannya. Adalah suatu keadaan yang menghambat kegiatan individu sebagai akibat kerusakan atau gangguan pada tulang, otot, atau sendi, sehingga mengurangi kapasitas normal individu untuk mengikuti pendidikan dan untuk berdiri sendiri. Kondisi tersebut dapat disebabkan karena pembawaan sejak lahir, penyakit atau kecelakaan, gangguan atau kerusakan.
Dengan kondisinya yang cacat fisik, umumnya anak tunadaksa akan mengalami gangguan psikologis yang cenderung merasa malu, rendah diri dan sensitif, serta memisahkan diri dari lingkungannya. Disamping karakteristik tersebut, rata-rata anak tunadaksa juga terdapat problem gangguan taktik dan kinestatik, serta gangguan emosi.
Namun itu semua dilawan oleh Eki, panggilan akrabnya. Meski memiliki keterbatasan fisik, tidak menjadi penghalang baginya.
Di balik keterbatasannya itu, justru prestasi selalu Eki raih selama mengenyam pendidikan di sekolahnya. “Keterbatasan fisik ini tidak pernah membatasi keinginan saya untuk meraih cita-cita,” katanya seusai upacara penerimaan mahasiswa baru di Halaman Grha Sabha Pramana UGM beberapa waktu lalu.
Meski demikian, Eki tak memungkiri bahwa saat ia masih kecil sempat minder. Terlahir tunadaksa, Eki mengakui sempat tertekan. Terutama saat menjalani sekolah di bangku pendidikan dasar (SD), karena tidak memiliki tubuh layaknya orang normal.
Namun seiring perjalanan waktu dan berkembangnya cara pikir pada dirinya, Eki terus berusaha menepis rasa sakit karena cacat fisik, dan menjadikannya cambuk untuk lebih giat belajar dan berprestasi.
“Setiap ada waktu luang, saya pakai untuk belajar,” katanya.
Eki juga mengaku ada untungnya ketika dalam kondisi cacat fisik. Di mana dia bisa mengurangi waktunya dari kegiatan yang tidak bermanfaat, semisal untuk bermain. Menurutnya dari pada memaksakan diri untuk bermain sebagaimana anak-anak normal pada umumnya, sementara fisiknya kurang mendukung, ia memilih untuk berada di rumah baca-baca buku, atau membantu orang tuanya. “Ya kalau tidak belajar, sebisa mungkin membantu pekerjaan orangtua,” tuturnya.
Perjuangan yang gigih, turut mengantarkan Eki hingga ke fase saat ini. Anak pertama dari tiga bersaudara ini, mengaku sangat bahagia ketika mengetahui dinyatakan lolos masuk UGM. Kebahagiaannya semakin memuncak, karena selama kuliah nantinya, ia tidak dipungut biaya sepeserpun hingga usai. “Ini lah yang saya cita-citakan sejak awal. Kuliah. Dan sangat membahagiakan lagi, kuliah di UGM,” ungkapnya bangga.
Mengenyam pendidikan tanpa biaya, memang menjadi keinginansetiap orang. Tak terkecuali Eki. Bagi Eki, itu merupakan sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan untuknya . “Tentu sangat bangga, karena bisa mengenyam bangku kuliah tanpa membebani orangtua,” ujarnya.
Apalagi, orangtua Eki memang bukan dari keluarga yang mampu. Menurut Eki, dari penghasilan kedua orang tuanya hanya cukup untuk memenui kebutuhan sehari-hari. “Ibu saya sehari-hari berjual kue dititipkan di warung-warung dekat rumah,” kata pria yang memiliki cita-cita menjadi aparat penegak hukum ini.
Sosok pria kelahiran Sragen 19 tahun silam ini, memang tidak seperti remaja pada umumnya. Ia berharap, ke depan dapat mengikuti perkuliahan dengan lancar dan lulus tepat waktu. Lebih dari itu, bisa tercapai apa yang dicita-citakan untuk turut berkontribusi terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Termasuk membahagiakan kedua orangtua atas prestasi yang diraihnya.
“Ini adalah awal untuk mewujudkan cita-cita. Pastinya jangan berkecil hati, tetap tekun dan bersyukur atas apa yang diraih,” pungkasnya. (jko/ong)