PADA bagian lain, kasus kekerasan terhadap profesi jurnalis masih terbilang tinggi di Indonesia. Bahkan ada kecenderungan bahwa kasus-kasus tersebut tidak serius diungkap oleh para penegak hukum.
Koordinator Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Aryo Wisanggeni mengatakan, berdasarkan catatannya, tren kekerasan terhadap jurnalis selalu menghawatirkan tiap tahunnya.
Dirincinya, pada tahun 2005, terdapat 43 kasus kekerasan terhadap wartawan, 2006 (53 kasus), 2007 (70 kasus), 2008 (59 kasus), 2009 (37 kasus), 2010 (51 kasus), 2011 (49 kasus), 2012 (51 kasus), 2013 (40 kasus),dan tahun 2014 terdapat 41 kasus.
“Hampir semua kasus pembunuhan itu mesti tidak terungkap. Seperti pembunuhan Agus Mulyawan wartawan Asia Press yang diberondong tembakan, yang dihukum hanya pelaku yang di sana, sementara di Indonesia tidak. Kasus Udin juga, setelah Iwik dinyatakan tidak bersalah, polisi masih meyakini Iwik pelakunya. Ini ada pola yang sama. Yaitu sama-sama tidak ada kemauan untuk menuntaskan,” katanya dalam Seminar Nasional Peringatan 19 Tahun Pembunuhan Wartawan Udin di Auditorium Pascasarjana Universitas Islam Indonesia, Jalan Cik Di Tiro Kota Jogja, Jumat (21/8).
Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila mengatakan, pihak kepolisian, Komnas HAM, Dewan Pers, dan organisasi-organisasi jurnalis, perlu duduk bersama untuk membahas kekerasan terhadap jurnalis.
Hal itu penting, karena kasus kekerasan terhadap jurnalis jarang dapat diselesaikan hingga tuntas. Dicontohkan, dalam kasus pembunuhan Udin. Meski sudah 19 tahun, kasus tersebut tak kunjung tuntas. “Para stakeholder harus duduk bersama. Jika ada pola kekerasan yang sama, kekerasan terhadap jurnalis bisa masuk pelanggaran HAM berat,” ujarnya.
Menurutnya jika bisa dilakukan konsolidasi dengan stakeholeder tersebut, sangat dimungkinkan jika pemerintah juga merespon dengan baik. “Konsolidasi itu yang penting. Kalau kita bisa lakukan ini, tentu kita bisa menggerakkan pemerintah untuk membangun political will menyelesaikan kasus-kasus itu,” imbuhnya. (riz/jko/ong)