DWI AGUS/Radar Jogja
MAKIN MENGGELIAT: Penampilan salah satu kelompok musisi perkusi dalam pembukaan JPF 2015 di pelataran Monumen Serangan Oemoem 1 Maret (S.O.1.M), Kamis (20/8) malam.
JOGJA – Puluhan musisi perkusi dari berbagai daerah meramaikan Jogja Percussion Festival (JPF) 2015. Ini terlihat saat pembukaan JPF 2015 di pelataran Monumen Serangan Oemoem 1 Maret (S.O.1.M), Kamis (20/8) malam. Kolaborasi musik perkusi dengan tari dan teatrikal, tersaji dalam ajang ini.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIJ Imam Pratanadi mengatakan, kegiatan tersebut dapat menjadi daya tarik wisata. Terlebih pemilihan tempat penyelenggaraan di Monumen S.O.1.M (20/8) dan Panggung Kinara Kinari Candi Prambanan, Jumat malam (21/8).
“Musik perkusi di Jogjakarta merupakan potensi untuk menarik wisata. Ini memasuki tahun kedua yang dimulai dari 2014 lalu. Tidak hanya menghadirkan musisi asal Jogjakarta, juga dari daerah lain,” katanya saat pembukaan di S.O.1.M.
Penyelenggaraan JPF 2015 lebih fokus dengan melibatkan tiga belas grup perkusi dari berbagai daerah. Grup ini terlebih dahulu melalui seleksi dari 20 grup musik perkusi yang mendaftar. Salah satu kelompok yang mencuri perhatian adalah Ca Blaka dari Cilacap.
Kelompok ini terdiri dari pelajar SMP yang memainkan beragam alat musik perkusi. Aksi ini semakin lengkap saat para penggawa melakukan teatrikal. Di mana terjadi percakapan di antara pemain dan interaksi kepada penonton.
“Sudah dua kali datang ke Jogjakarta, atmosfirnya menghibur dan membuat semangat. Bisa menambah pengalaman dan kenal dengan musisi lainnya. Belajar tentang musik perkusi dari berbagai daerah,” kata Wira Suara Ca Blaka, Andi.
Tema RE – ConnectCussion dipilih sebagai pengawal kegiatan JPF 2015 ini. Spirit penyelenggaraan JPF 2015 adalah mengangkat kembali potensi musik perkusi Jogjakarta. Selain itu juga menjadi ajang silaturahmi musisi perkusi di Jogjakarta.
Prayoga dari Jaran Entertainment kelompok musik perkusi di Jogjakarta mengakui sangatlah beragam. Bahkan musik perkusi sempat memasuki masa keemasan di tahun 2001. Sayangnya pamor ini sedikit meredup setelah era tahun 2003.
Namun di sisi lain, kelompok-kelompok ini tetap bertahan. Menurut Prayoga, kelompok ini tetap berkarya meski era mereka sudah lewat. Geliat ini tumbuh setelah beberapa lokasi di Jogjakarta lahir kelompok-kelompok musik baru.
“Saat ini di beberapa titik jalan pasti ada pemain musik perkusi. Ini salah satu bukti bahwa geliat musik perkusi kembali lahir. JPF 2015 juga bertujuan mengumpulkan kembali para penggawa musik ini,” tandas Prayoga.
Hari pertama (20/8) selain Ca Blaka, tampil pula SaeDrum, Kesper, Bambosa, Groove n Roll, dan Ndjagong. Sedangkan hari kedua di Prambanan (21/8) menampilkan Koper Muni, Basingsai, Bale Kambang, Svara Samsara, Dui Percussion, Malinke dan Groove n Roll.
Dinas Pariwisata DIJ menargetkan kunjungan di atas tahun lalu. Ini berdasarkan kapasitas tempat penyelenggaraan kegiatan JPF 2015. Monumen Serangan Oemoem 1 Maret dengan kapasitas lebih dari 1000 orang, sedangkan Panggung Kinara Kinari Candi Prambanan mencapai 650 orang.
“Bulan ini kunjungan wisata di Jogjakarta sedang ramai, baik domestik maupun mancanegara. Tahun lalu saat penyelenggaraan di Candi Ratu Boko mencapai 650 orang. Tahun ini kami menargetkan diatas itu,” pungkas Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIJ Imam Pratanadi. (dwi/jko/ong)