DWI AGUS/RADAR JOGJA
SENI: Jathilan Kreasi Baru Turangga Laras saat tampil di Alun-Alun Sewandanan Puro Pakualaman, Minggu sore (23/8).
JOGJA – Melestarikan bu-daya merupakan tujuan utama berdirinya Paguyuban Jathilan Kreasi Baru Turangga Laras. Uniknya, mayoritas penggawa dalam kelompok ini adalah anak-anak dan remaja. Ini ter-lihat saat kelompok yang berasal dari Dusun Soko Kerep, Semanu, Gunungkidul ini tam-pil di Alun-Alun Sewandanan Puro Pakualaman, Minggu sore (23/8).Ketua Turangga Laras Giyanto mengungkapkan, usia paguyuban ini masih baru. Terbentuk Maret 2015 lalu untuk mengikuti ke-giatan seni di Kelurahan Semanu. Dari sinilah niat untuk mendiri-kan kelompok seni tercetus.”Waktu itu memang untuk lomba seni budaya di Kelurahan Semanu saja. Tapi dari sini kita tergerak untuk melanjutkan, tidak hanya sekadar ikut lomba
Wujud nguri-uri budaya,” ungkap Giyanto sebelum pementasan.Mendirikan kelompok seni di Dusun Soko Kerep, me-nurutnya, juga tidak mudah. Ini karena warga di dusun tersebut tak banyak yang be-rasal dari kalangan pegiat seni. Alhasil, untuk menarik minat warga, terutama anak-anak, memerlukan beberapa kali pertemuan. Bahkan dip-ancing dengan beberapa lati-han terlebih dahulu.Meski begitu, beberapa re-maja di dusun ini mahir me-nari dan bermain gamelan. Potensi kecil inilah yang diguna-kan untuk menarik warga lain-nya. Upaya ini berhasil karena anak-anak dan remaja di dusun ini tertarik untuk bergabung.”Waktu itu hanya kumpul-kumpul biasa dengan yang ber-niat. Dua kali pertemuan belum ada peminat, baru di pertemu-an keempat bertambah. Mayo-ritas ternyata anak-anak dan remaja, dari usia sembilan tahun hingga 20 tahun,” katanya.
Beberapa warga sepuh juga bergabung dalam paguyuban ini. Namun sifatnya hanya se-bagai pendamping dan pemain warok. Sedangkan untuk peran utama tetap dikerahkan peng-gawa anak-anak dan remaja.Melalui paguyuban ini, Giyanto ingin membuktikan bahwa tidak hanya desa seni yang dapat men-dirikan paguyuban. Meski tidak memiliki sejarah kelompok seni, namun niat warga Dusun Soko Kerep dapat mematahkan stigma tersebut.”Untuk saat ini ada delapan belas penari anak dan remaja. Mereka juga belajar bagai-mana bermain gamelan. Walau hanya kesenian rakyat kreasi baru, namun tetap mengede-pankan nilai-nilai kearifan lokal,” kata Giyanto.
Semangat juga terlihat dari salah satu penggawa Bima Agung Yulianto. Siswa kelas 3 SMP terketuk mengajak teman-teman sebayanya melestarikan warisan seni budaya di desanya. “Dari kelas 4 SD memang senang berkesenian, awalnya gamelan. Di sini selain menari juga ber-main kendang. Memang ber-minat gabung untuk melesta-rikan budaya,” kata remaja usia 16 tahun ini.Adanya pementasan ini diakui oleh Giyanto menjadi penye-mangat. Terutama para penggawa paguyuban usia anak-anak dan remaja. “Mampu memotivasi dan memberikan semangat dalam melestarikan kesenian rakyat. Kesempatan pentas di Pakuala-man ini menjadi semangat kami untuk terus nguri-uri budaya,” pungkasnya. (dwi/ila/ong)