YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
NYANTAI: Camat Depok Budiharjo bersama istri sedang menikmati menu di salah satu angkringan, akhir pekan lalu.

Kampanyekan Makanan Tradisional Bersih, Bergizi, dan Higienis

Menu warung angkringan tak selalu identik dengan “sego kucing”. Kini, angkringan menyediakan lebih banyak ragam makanan dan camilan tradisional. Ini buktinya.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
DI FESTIVAL angkringan yang dise-lenggarakan di halaman Kantor Keca-matan Depok ini, sego kucing tak lagi berupa sebungkus nasi dengan lauk sambal ikan teri. Kini makin banyak variasinya. Ada nasi telur, orak-arik tempe, hingga sayur tahu. Ada pula yang disajikan di piring, berupa nasi sayur. Nah, sego kucing yang dulu hanya “berteman” dengan tahu dan tempe goreng, serta sate ayam itu kini me-miliki lebih banyak “kolega”. Mulai bakso tusuk, nuget, kacang rebus, ketela, jagung, mendut, dan berbagai macam camilan. Menu minuman pun tak kalah variatif. Yang semula hanya air teh, kopi, jahe, dan perasan jeruk. Kini banyak pe-dagang menyajikan wedang secang, wedang uwuh, dan aneka minuman tradisional lainnya. Pada festival angkringan tak hanya aneka menu yang dinilai oleh juri. Hiasan gerobag, hingga penampilan pedagangnya juga masuk hitungan
Tapi bukan itu yang utama. Rasa, penyajian, kebersihan, gizi, dan higienitas menu men-jadi sasaran utama penilaian. “Selain memberdayakan pe-dagang kecil, event ini sekaligus kampanye untuk menu sehat angkringan,” jelas Camat Depok Budiharjo sambil menikmati wedang secang di salah satu angkringan, akhir pekan lalu. Sebanyak 25 pedagang ang-kringan terlibat dalam festival. Masing-masing berusaha tam-pil beda. Baik penyajian menu maupun penampilan pribadi mereka. Ada yang tampil ka-sual bercelana panjang dipadu kemeja. Ada pula yang tampil berbusana surjan lurik, lengkap dengan belangkonnya.
Ajang itu difasilitasi pemerintah kecamatan setempat. Setiap pe-dagang mendapat jatah Rp 750 ribu. Di situ, para pedagang tidak berjualan. Selama dua jam, sete-lah dinilai, masyarakat yang me-ngunjungi area festival bebas menikmati menu angkringan secara gratis. Jika bersisa, pedagang boleh menjualnya usai acara.Tak ayal, puluhan orang ber-kerumun antre di masing-masing angkringan yang tersebar mengi-tari halaman pendopo kecama-tan. “Ini seninya antre angkring-an,” kelakar Budiharjo.
Angkringan menjadi objek fes-tival bukan tanpa alasan. Banyak warga Depok yang mengandalkan hidup dari usaha warung gerobak kayu itu. Bahkan, angkringan telah menjadi salah satu unit usaha ke-cil mikro (UKM) potensial. Karena itulah, Budiharjo me-rasa turut berkewajiban menja-min menu angkringan tetap sehat, bersih, dan higienis. Demi menjaga kepercayaan konsumen, yang bukan hanya dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Para orang kaya pun tak sedikit yang hobi nongkrong dan jajan di angkringan yang menjadi sa-lah satu ikon Jogjakarta.
Muh Arsyad yang tampil dengan baju lurik cokelat berhak mem-peroleh piala juara. Pemuda usia tiga puluhan itu dinilai rapi dalam menyajikan menu dan menjaga nilai tradisi saat berjualan. “Bukan hanya penampilannya, kebersihan dan kerapian penjual juga dinilai,” ungkap Betty, pendamping juri.Kades Caturtunggal Agus San-toso sangat apresiatif melihat festival ini. Dia berharap, event serupa lebih sering digelar dan dipusatkan di titik-titik keramai-an masyarakat. Bukan tak mungkin, sekumpulan angkringan bakal menjadi daya tarik wisata alter-natif di Sleman. (din/ong)