JOGJA – Aset maupun unit usaha yang dimiliki Badan Usa-ha Milik Daerah (BUMD) di-minta untuk bisa dikelola sen-diri. Dengan pengelolaan sen-diri diharapkan hasil yang dida-pat bisa lebih optimal. Selain itu, juga memudahkan penga-wasan yang dilakukan DPRD maupun Pemprov DIJ sendiri.”Unit usaha BUMD itu jangan disewakan, seperti pemilik kos saja, hanya nunggu setoran,” sen-til Wakil Ketua Komisi B DPRD DIJ Dwi Wahyu dalam pertemu-an dengan jajaran komisaris BUMD di DPRD DIJ, kemarin (24/8).
Menurutnya, jika pengelolaan dilakukan pihak ketiga menyulit-kan jajaran legislatif maupun eksekutif untuk melakukan peng-awasan. Oleh karena itu, politikus PDIP ini meminta supaya BUMD yang dimiliki Pemprov DIJ, yaitu Bank BPD DIJ, Anindya Mitra Internasional (AMI) dan Taru Martani melakukan konsolidasi untuk mengetahui persoalan. Jika ketidakmampuan tiga BUMD tersebut mengelola sen-diri aset dan unit usahanya ka-rena keterbatasan sumber daya manusia (SDM), bisa dilakukan rekrutmen. “Tapi saya minta yang ahli, jangan asal sembarang orang direkrut,” tuturnya.
Ketua Komisi B DPRD DIJ Janu Ismadi menambahkan, sebenar-nya dewan bisa merestui pem-berian suntikan penyertaan modal untuk tiga perusahaan pelat merah tersebut. Tapi, men-urut Janu, penyertaan modal tidak bisa diberikan tanpa ada rencana yang jelas. Dari tiga BUMD DIJ tersebut, baru BPD DIJ yang dianggap memiliki perencanaan yang jelas. “Rencana yang akan dikerjakan tahun depan itu apa, harus jelas,” tandasnya.DPRD DIJ memberikan batas waktu sampai pertengahan Sep-tember mendatang agar PT AMI dan PT Taru Martanai segera mem-buat grand design perusahaan yang akan dikerjakan. BPD DIJ juga diingatkan untuk terus memper-baiki kinerjanya. “September harus sudah selesai, karena Oktober su-dah dimulai pembahasan RAPBD 2016,” jelasnya.
Terpisah, Direktur Utama PT AMI Dyah Puspitasasi mengaku siap untuk menjalankan rekomendasi yang diajukan kalangan legislatif, yaitu mengelola sendiri unit usa-hanya. Meskipun, hal itu masih harus dimatangkan kembali. Menurut Dyah, opsi tersebut sebenarnya sudah menjadi per-hatian para pemegang saham dan menjadi salah satu pemba-hasan dalam Rapat Umum Pe-megang Saham (RUPS) Juli lalu. “Ada dua opsi, yakni opsi mengelola unit usaha sendiri dan opsi menyewakan ke pihak ketiga. Ini masih dalam pemba-hasan kami,” papar Dyah.
Sejumlah unit usaha dibawah PT AMI saat ini disewakan ke-pada pihak ketiga, seperti Ma-lioboro Mall, Mirota Batik, Hotel Melia Purosani dan Jogja Plaza Hotel. PT AMI sendiri, jelas Dyah, kinerjanya terus menga-lami peningkatan. Salah satunya dibuktikan dengan setoran ke kas daerah yang mencapai Rp 500 juta untuk 2014 lalu. Angka itu meningkat dibanding-kan setoran ke kas daerah pada 2013 lalu yang baru Rp 400 juta. Untuk besaran dana penyertaan modal, Dyah mengaku masih perlu dihitung kembali. “Sudah empat tahun terakhir kami tidak mendapat penyertaan modal,” ungkapnya. (pra/ila/ong)