SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
DISAMBUT POSITIF: Pengisian pertalite oleh jajaran PT Pertamina dan Hiswana Migas DIJ di SPBU Lempuyangan, kemarin (24/8).
JOGJA – Uji pasar produk BBM ter-baru dari Pertamina, pertalite, menda-pat sambutan positif dari masyarakat Jogja. Pertalite yang awalnya dilun-curkan untuk menarik pengguna premium supaya beralih ke pertalite, ternyata juga menarik bagi pengguna Pertamax untuk mencoba.Sejak mulai uji pasar pada 14 Agustus lalu, dalam sehari, konsumsi per talite di tiga SPBU yang sudah melayani, rata-rata lebih dari 2,4 kiloliter per hari per SPBU.Tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) yang dimaksud adalah SPBU Lempuyangan, SBPU Sultan Agung, dan SPBU Semaki
Menurut Marketing Branch Manager PT Pertamina DIJ dan Surakarta, sejak adanya perta-lite, terbukti mampu mengurangi konsumsi premium di DIJ hing-ga 12 persen. “Ternyata pertalite juga berpengaruh terhadap peng-guna pertamax yang juga turun, meski kecil hanya dua persen,” jelas Freddy kemarin (24/8).
Menurut dia, sejak awal keha-diran pertalite, memang diperun-tukkan sebagai BBM alternatif. Sehingga masyarakat mendapat pilihan BBM yang lebih beragam. Pertalite sendiri memiliki oktan 90, lebih tinggi dari premium yang memiliki oktan 88 tapi le-bih rendah dari pertamax yang memiliki oktan 92. Bahan bakar dengan kode war-na nozzle putih itu diposisikan berada di tengah-tengah, lebih murah dari pertamax, namun lebih tinggi dari premium. “Rata-rata omzet pertalite di Jateng DIJ sekitar 2.146 liter per hari, grafiknya terus naik. Untuk per SPBU ber-variasi, tapi rata-rata mampu jual 3.000 liter per hari,” jelasnya.
Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina Muchammad Iskan-dar memastikan, kehadiran pertalite tidak akan menghilang-kan premium. Stok premium tidak akan dikurangi karena sudah ditentukan jumlahnya. “Pertalite ini sebagai variasi pi-lihan BBM, tidak untuk meng-gantikan premium,” tegasnya.
Iskandar juga memastikan pertalite, yang saat ini dijual dengan harga Rp 8.400 per liter atau lebih mahal Rp 1.000 dari harga jual premium, tidak akan dinaikkan harganya paling tidak hingga akhir tahun ini. Untuk penentuan harga, menurut Is-kandar, sama dengan BBM non subsidi, termasuk pertamax, akan mengacu pada harga interna-sional. Meskipun harga bisa berubah sewaktu-waktu, pi-haknya memastikan harga per-talite tidak akan melampaui harga pertamax, dan gap harga dengan premium juga tidak ter-lalu jauh. “Tidak menutup kemungkinan harga pertalite berubah sesuai fluktuasi harga minyak internasional,” ungkap Iskandar. (pra/jko/ong)