SLEMAN – Ditangkapnya terduga teroris ber inisial SF yang oleh warga dikenal dengan nama Agus Ari oleh Densus 88 di daerah Cupuwatu, Kalasan, Sleman, pada Selasa (25/8) lalu, telah membuka mata kita, bahwa Jogjakarta memungkin sebagai tempat persembunyian para te roris. Guna menyikapi keadaan tersebut, Polda DIJ mulai meningkatkan kewaspa-daan dan pengawasan.Kapolda DIJ Brigjen Pol Erwin Triwanto mengata-kan, kewaspadaan atau pengawasan yang akan dan selalu dilaksanakan, adalah mengedepankan fungsi intelejen dan binmas. Yaitu melakukan sambang Babinkamtibmas dengan warga masyarakat
“Kalau prefentif seperti peme-riksaan KTP warga, bukan domain Polri. Namun kami akomodir kerja sama Polda DIJ dengan pemerintah daerah, termasuk selektif memberikan identitas KTP,” katanya kepada Radar Jogja, kemarin (27/8).Mengenai kemungkinan masih ada tidaknya tersangka atau ter-duga teroris lainnya, Kapolda menegaskan, hal itu tergantung dari hasil penyelidikan Densus 88. “Dalam kegiatan penyelidikan oleh Densus, kami tidak dilibatkan. Semua murni dari Densus 88. Mengacu keterangan masyarakat, orang itu memang mencurigakan gerak geriknya,” tandasnya.
Namun pada intinya, pihaknya selalu menghimbau kepada ma-syarakat, apabila mendapati hal-hal yang mencurigakan, agar tidak segan-segan segera mela-porkannya ke polisi. “Suatu hal yang positif, karena masyarakat telah bertindak tanggap. Tanpa masukan dari masyarakat, po-lisi tidak akan optimal,” tegasnya. Lebih jauh dikatakan, dalam membentengi masuknya kawa-nan yang diduga sebagai jaringan teroris, pengendalian sosial sangat dibutuhkan. Pengenda-lian sosial yang dimaksudkan adalah suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarah-kan masyarakat untuk ber perilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. “Dengan adanya pengenda-lian sosial yang baik, diharapkan mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang atau membang-kang,” ujarnya
Seperti diketahui, seorang terduga pelaku terorisme, SF,25, ditangkap oleh Densus 88 di Kalasan Sleman. Pria yang bela-kangan diduga terkait jaringan Ibad di Solo itu, dinilai mencu-rigakan, sebab selalu mengena-kan masker dan cadar dalam setiap aktivitasnya. Belakangan, sesuai penyidikan oleh Densus 88, dalang jaringan terorisme, SF bertindak sebagai perakit bom. (riz/jko/ong)